Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Telah diperlihatkan kepadaku tempat hijrah kalian. Ia adalah tanah yang subur di antara dua kawasan berbatu hitam. Bisa jadi Hajar atau Yatsrib.”
Rasulullah ﷺ kemudian berangkat menuju Madinah dan Abu Bakr turut bersamanya. Sementara itu, aku sebenarnya sangat ingin berangkat bersama beliau, tetapi beberapa pemuda Quraisy menghalangiku. Malam itu aku terus berdiri dan tidak duduk. Mereka berkata, “Allah telah menyibukkannya dari kalian karena urusan perutnya.” Aku tidak berhenti berjaga, hingga akhirnya mereka tertidur.
Aku pun pergi. Setelah cukup jauh berjalan, beberapa orang dari mereka berhasil mengejarku. Mereka hendak membawaku kembali. Aku berkata kepada mereka, “Bagaimana jika aku memberikan kepada kalian beberapa uqiyah emas dan dua pakaian berharga yang berada di Makkah, lalu kalian membiarkan aku pergi?” Mereka menyetujuinya.
Aku kemudian menunjukkan kepada mereka tempat hartaku di Makkah. Aku berkata, “Galilah di bawah ambang pintu, karena di bawahnya terdapat emas. Pergilah kepada Fulanah dengan tanda ini dan itu, lalu ambillah dua pakaian tersebut.” Setelah itu aku melanjutkan perjalanan hingga tiba di Quba dan bertemu Rasulullah ﷺ sebelum beliau berpindah dari sana.
Ketika beliau melihatku, beliau bersabda, “Wahai Abu Yahya, sungguh beruntung jual belimu.” Beliau mengulanginya tiga kali. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang lebih dahulu sampai kepadamu daripadaku. Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak ada yang memberitahuku selain Jibril.”
Kisah ini menggambarkan keteguhan Shuhaib radhiyallahu ‘anhu dalam mempertahankan agamanya. Ia rela meninggalkan harta yang telah dikumpulkannya demi dapat berhijrah dan menyelamatkan agamanya.
Bagi seorang mukmin, harta memang memiliki nilai dan kedudukan. Namun, ketika harta dihadapkan dengan keselamatan agama, maka agama harus menjadi pilihan utama.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
1. Seorang mukmin senantiasa mendapatkan cobaan dalam agamanya, keluarga, maupun harta bendanya.
Cobaan merupakan bagian dari kehidupan seorang mukmin. Karena itu, seorang muslim hendaknya bersabar dan tetap teguh dalam mempertahankan keimanannya.
2. Harta merupakan suatu kemuliaan, tetapi agama adalah sesuatu yang paling membuat seseorang mulia dan terhormat.
Harta dapat menjadi sarana kebaikan apabila digunakan dengan benar. Namun, kemuliaan seorang muslim tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh keimanan dan ketakwaannya kepada Allah.
3. Seorang muslim wajib membentengi diri dan menjauhi segala sesuatu yang dapat menjauhkannya dari agama.
Kisah Shuhaib mengajarkan bahwa mempertahankan agama terkadang membutuhkan pengorbanan. Harta, kenyamanan, bahkan berbagai hal yang dicintai mungkin harus ditinggalkan apabila menjadi penghalang seseorang dalam menjalankan agama.


Komentar