“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”
(QS. Al-Baqarah, ayat 10)
Nifaq Pintu Kekufuran
Nifaq adalah sifat orang munafik. Tersebut surat Al-Baqarah sebelumnya, Al-Baqarah ayat 9 yang membeberkan kebohongan amal lisan. Mereka menipu Allah dengan mengaku beriman kepada-Nya dan iman hari akhir, padahal harinya menolak. Itulah penyakit nifaq. Menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan. Karena itu mereka disebut munafiq.
Ibnu Katsir berkata, “Ada pendapat yang mengatakan bahwa penyakit itu berupa keraguan. Pendapat lain mengatakan riya’. Pendapat yang lain lagi mengatakan kekejian dan kekotoran. Yang benar ialah semua ungkapan itu. Yakni penyakit yang ada dalam hati kaum munafiq adalah keraguan, riya’, dan kekejian kekotoran.”
Dikatakan ragu, karena mereka meragukan risalah Nabi Muhammad ﷺ. Dikatakan riya’, karena mereka menampakkan keimanan padahal mereka kafir. Dikatakan keji, karena mereka kafir kepada apa yang diturunkan Allah ﷻ kepada Muhammad ﷺ. Tidak diragukan lagi, bahwa kekafiran merupakan kekejian dan kekotoran.”
Hudzaifah Al-Yamani berkata, “Hati itu ada empat macam: satu, hati yang murni yang di dalamnya ada pelita yang menyala, itulah hati orang mukmin. Dua, hati yang tertutup, itulah hari orang kafir. Tiga, hati yang terbalik, itulah hati orang munafik. Ia mengetahui kebenaran, tetapi mengingkarinya. Ia melihat tetapi membuta. Empat, hati yang terdiri dari dua materi: iman dan kemunafikan, mana yang menang dalam pergulatan itulah yang menang.” (HR Ahmad).
Ibnul Qayyim berkata, “Hati orang munafik disebut hati yang terbalik, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Maka mengapa kamu menjadi dua golongan dalam orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan kepadanya.” (QS an-Nisa’: 88)
Artinya, Allah membalikkan dan mengembalikan mereka pada kebatilan yang dahulu mereka ada di dalamnya, disebabkan oleh usaha dan perbuatan mereka yang salah. Inilah sejahat-jahatnya dan seburuk-buruknya hati. Ia mempercayai bahwa yang batil adalah benar dan setia kepada para pengikut kebatilan. Sebaliknya ia mempercayai bahwa yang haq itulah yang batil dan memusuhi orang-orang yang mengikuti kebenaran.”
Definisi Nifaq dan Sejenisnya
Nifaq secara bahasa berasal dari kata an-na-fi-qa’, yaitu salah satu lobang tempat keluarnya hewan Yarbu’ (sejenis tikus) dari sarangnya. Jika dicari dari lobang yang satu ia keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata an-na-fa-qi, yaitu lobang tempat bersembunyi.
Nifaq menurut syara’ yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Ibnul Qayyim berkata, “Nifaq adalah menampakkan keimanan di hadapan kaum muslimin.
Ia mengaku beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya dan hari akhir, tetapi hatinya tidak demikian, bahkan ia mendustakan semuanya. Ia tidak meyakini, bahwa Allah telah menurunkan al-Quran kepada rasulnya sebagai petunjuk dan menjelaskan ancaman dan siksa.”
Nifaq terbagi menjadi dua jenis. Satu, nifaq perbuatan. Nifaq ini berbentuk tumbuhnya perilaku-perilaku yang menunjukkan ciri golongan munafik, walaupun secara hati nurani ia tidak berkeinginan menjadi munafik. Tetapi, jika dilakukan secara kontinyu dapat menyebabkan pelakunya sampai pada tingkat nifaq keyakinan.
Seperti yang disabdakan Nabi ﷺ, “Ada empat hal, jika berada dalam diri seseorang, maka ia menjadi munafiq yang sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki salah satu dari empat hal itu, maka berarti ia memiliki suatu kebiasaan (ciri) nifaq hingga ia meninggalkannya: bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia mengingkari, dan bila berdebat ia curang.” (HR Bukhari dan Muslim)
Terkadang seseorang melakukan kebaikan, iman, buruk, kufur dan nifaq, maka ia akan mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan konsekuensi dari apa yang ia lakukan.
Dua, nifaq keyakinan. Yaitu menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Ini adalah pertanda rusaknya iman, ia sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.
Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan berkata, “Allah mensifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan. Seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya dan kecenderungan kepada musuh-musuh agama untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam.”
Posisi Nifaq
Nifaq itu sangat lembut dan halus. Ia bertempat antara iman dan kufur: yakni ragu. Ragu terhadap setiap keputusan Allah dan Rasul-Nya, sehingga seringkali ia tidak membenarkan dan berpaling dari apapun yang Allah sampaikan dan diserukan oleh Rasul-Nya.
Penyakit nifaq semakin subur seiring dengan cintanya hati terhadap dunia dan cenderung terhadap hawa nafsu. Ia menjual akhirat dengan kesenangan sesaat di dunia, berpura-pura menampakkan keislaman, namun hatinya memendam kekufuran dan keingkaran yang tiada terhingga. Suka berdusta, mengkhianati janji, curang di dalam perdebatan, enggan bersikap adil, senang dengan penyelewengan, jika diajak melakukan kebaikan mereka lari.
Hati mereka gelap dan hitam pekat, tidak ada cahaya Islam dan tauhid, bahkan terselimuti kesyirikan, kekufuran dan kemaksiatan. Enggan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan menentangnya, ia selalu berupaya menghindari dari syari’at Allah dengan beragam alasan. Dengan demikian, setiap amal kebaikan yang ia lakukan tidak bermanfaat, lenyap hilang begitu saja di hadapan Allah. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS Muhammad: 9)
Oleh karena itu, orang yang telah terserang penyakit ini tidak mungkin mendapatkan keberuntungan selamanya, kecuali jika ia bertaubat.


Komentar