Home » Blog » Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

Allah ﷻ berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”

(QS. An-Nisa’: 82)

Allah ﷻ juga berfirman:

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?”

(QS. Muhammad: 24)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada membacanya. Al-Qur’an harus kita baca, kita pelajari, kita tadabburi, dan kita amalkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Hukum Namsh: Mencabut dan Menipiskan Alis

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajari Sunnah Nabi mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.”

(HR. Muslim)

Beliau ﷺ juga bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Memilih Teman, Menjaga Akhlak

(HR. Bukhari)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan berbakti. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala.”

(HR. Bukhari no. 4937 dan Muslim no. 798; lafaz di atas adalah lafaz Muslim)

Lantas, bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan Al-Qur’an? Di antara adab yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut.

1. Ikhlas dalam Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Tidak ada ibadah yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ kecuali harus dibangun di atas dua syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas karena Allah ﷻ dan sesuai dengan tuntunan syariat. Tanpa keduanya, sebuah amalan tidak akan diterima.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Yang pertama kali diperintahkan bagi pembaca Al-Qur’an adalah keikhlasan dalam membacanya, hanya mengharapkan wajah Allah ﷻ dari bacaan Al-Qur’an tersebut, dan tidak mengharapkan sesuatu pun selain itu.”

(Lihat Al-Adzkar, hlm. 160)

Di antara pembaca Al-Qur’an, ada yang membacanya agar perhatian manusia tertuju kepadanya. Dengan bacaan tersebut, dia berharap manusia mendatangi majelisnya, menyanjungnya, dan menghormatinya—wal ‘iyaadzu billah.

Karena itu, seorang pembaca Al-Qur’an hendaknya senantiasa mengingat ancaman bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an tetapi mengharapkan selain wajah Allah ﷻ.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:

“Saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang pertama kali dijatuhkan hukuman pada hari kiamat adalah … seseorang yang mempelajari ilmu, lalu mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Kemudian dia dihadapkan kepada Allah ﷻ dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya, lalu dia pun mengakuinya. Allah ﷻ berfirman, ‘Apa yang telah engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat tersebut?’ Dia menjawab, ‘Saya mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an karena-Mu.’ Allah ﷻ berfirman, ‘Engkau telah berdusta. Engkau mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai orang alim, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qari. Dan engkau telah mendapatkan hal itu.’ Kemudian dia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya hingga dicampakkan ke dalam api neraka.’”

(HR. Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa membaca dan mempelajari Al-Qur’an merupakan amal yang agung. Namun, kemuliaan sebuah amal tidak boleh membuat kita lalai dari keikhlasan. Karena itu, hendaknya kita senantiasa memeriksa niat sebelum, ketika, dan setelah berinteraksi dengan Al-Qur’an.

2. Mengamalkan Isi dan Kandungan Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan dihafalkan. Ia adalah petunjuk yang harus kita pahami dan kita amalkan.

Terdapat ancaman yang keras bagi seseorang yang telah diberikan Al-Qur’an, tetapi kemudian dia melalaikannya dan tidak mengamalkannya.

Dalam Shahih Al-Bukhari, dalam hadits panjang tentang mimpi Nabi ﷺ, disebutkan:

“Keduanya berkata, ‘Pergilah.’ Maka kami pun beranjak pergi hingga kami menjumpai seseorang yang berbaring terlentang. Sementara itu, seseorang berdiri di atas kepalanya dengan membawa sebuah pemukul atau batu besar, lalu dia memecahkan kepala orang tersebut. Ketika dia memukulkan batu itu ke kepalanya, batu tersebut terguling. Kemudian dia pergi mengambil batu itu dan tidaklah dia kembali kepada orang tersebut hingga kepalanya telah sembuh dan kembali seperti semula. Setelah itu, dia kembali memukulkan batu tersebut ke kepalanya.

Saya bertanya, ‘Siapakah ini?’ Keduanya menjawab, ‘Pergilah.’ Kemudian hal tersebut diterangkan kepada beliau ﷺ. Beliau bersabda, ‘Adapun orang yang engkau lihat kepalanya dipukul dengan batu besar adalah seseorang yang Allah telah ajarkan Al-Qur’an kepadanya, tetapi pada malam hari dia tidur dan tidak membacanya, sedangkan pada siang hari dia tidak mengamalkannya. Hal itu akan diberlakukan atas dirinya pada hari kiamat kelak.’”

Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menuntut lebih dari sekadar hubungan lisan. Kita tidak cukup hanya membaca dan menghafalkannya, tetapi juga perlu berusaha memahami petunjuknya dan mengamalkannya dalam kehidupan.

3. Menjaga dan Memperbarui Hafalan Al-Qur’an

Menjaga Al-Qur’an dilakukan dengan membiasakan diri membacanya dan senantiasa berusaha mengingatnya. Adapun memperbaruinya dilakukan dengan terus menjaga rutinitas membaca, mempelajari kandungannya, mentadabburi maknanya, serta mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya.

(Lihat Fathul Bari, 8/697–699)

Seseorang yang mempelajari Kitabullah dan menghafalkannya, apabila tidak menjaganya dengan mempelajari dan mengulang-ulang hafalannya, maka hafalan tersebut akan mudah terlupakan.

Al-Qur’an sangat mudah lepas dari dada orang yang menghafalkannya. Karena itu, sudah semestinya kita memberikan perhatian yang besar terhadapnya dengan memperbanyak membaca, mempelajari, dan mengulang hafalan Al-Qur’an.

Rasulullah ﷺ telah memberikan permisalan tentang orang yang menjaga Al-Qur’an dan orang yang melalaikannya.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

“Sesungguhnya permisalan orang yang membawa Al-Qur’an adalah seperti pemilik unta yang terikat. Apabila dia memperhatikannya dengan baik, niscaya dia akan memegangnya dengan erat. Namun, apabila dia melalaikannya, unta tersebut akan lari darinya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Jagalah Al-Qur’an. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih mudah lepas daripada seekor unta dari ikatannya.”

(HR. Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:

“Beliau menyerupakan hilangnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur dengan lepasnya ikatan seekor unta yang dikhawatirkan akan melarikan diri. Ketika penjagaan terhadap Al-Qur’an ada, hafalan Al-Qur’an pun akan tetap terjaga, sebagaimana seekor unta yang diikat dengan kuat akan tetap terjaga. Penyebutan unta secara khusus dalam hadits tersebut karena unta merupakan hewan peliharaan yang paling mudah lepas dan sangat sulit ditemukan kembali apabila telah melarikan diri.”

(Lihat Fathul Bari, 8/697–698)

Menjadikan Al-Qur’an sebagai Bagian dari Kehidupan

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang kita lantunkan dengan lisan. Ia adalah kitab yang Allah ﷻ turunkan sebagai petunjuk bagi kehidupan kita.

Karena itu, sudah semestinya hubungan kita dengan Al-Qur’an terus kita jaga. Kita membacanya dengan ikhlas, mempelajari kandungannya, mentadabburi maknanya, mengamalkan petunjuknya, serta menjaga hafalan dan bacaan kita.

Jangan sampai hubungan kita dengan Al-Qur’an hanya sebatas ketika membacanya. Sebab, kemuliaan Al-Qur’an justru akan semakin terasa ketika ayat-ayatnya hidup dalam hati, lisan, dan amal perbuatan kita.

Semoga Allah ﷻ menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, menerangi hati kita dengannya, memudahkan kita untuk membaca dan memahaminya, serta memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan setiap petunjuk yang ada di dalamnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bersambung…

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

03

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

04

Rahasia Khusyuk dalam Shalat dan Pengaruhnya bagi Kehidupan

05

Bahaya Mengkafirkan Saudara Sendiri

Terbaru

01

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

02

Hukum Namsh: Mencabut dan Menipiskan Alis

03

Memilih Teman, Menjaga Akhlak

04

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

05

Mengapa Shalat Kita Tidak Mencegah dari Maksiat?