Home » Blog » Mengapa Shalat Kita Tidak Mencegah dari Maksiat?

Mengapa Shalat Kita Tidak Mencegah dari Maksiat?

Tanda Sifat Orang Munafik : Shalat itu Berat

Orang munafik adalah mereka yang merasakan shalat sebagai beban. Sekalipun mereka berdiri untuk melaksanakan shalat, hati mereka tidak benar-benar hadir. Mereka mengerjakannya dengan malas, seakan-akan shalat menjadi sesuatu yang berat bagi mereka dan ingin segera menyelesaikannya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ ۖ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”

Rahasia Khusyuk dalam Shalat dan Pengaruhnya bagi Kehidupan

Padahal, setelah selesai shalat, ke mana kita akan pergi? Apakah kita ingin bertemu seseorang yang lebih mulia dan lebih berhak untuk kita datangi daripada Allah ﷻ? Kita sedang berada di rumah-Nya. Maka mengapa sebagian kita justru bergegas keluar? Mengapa kita tidak duduk lebih lama untuk berdzikir, berdoa, dan bermunajat kepada-Nya, sebelum kembali menjalani kesibukan dunia?

Khanzab: Setan yang Bertugas Merusak Shalat

Di antara sebabnya adalah bahwa setan telah menugaskan pembantu-pembantunya yang bernama—Khanzab, yaitu sejenis jin dan setan yang punya tugas dan misi khusus untuk merusak shalat seorang hamba. Khanzab mungkin ia tidak mampu mencegah kita untuk datang ke masjid, tetapi ia berusaha kuat untuk merusak shalat kita.

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Setan mengikat pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan ia berkata: ‘Malammu panjang, maka tidurlah.’ Apabila ia bangun dan menyebut Allah, terurailah satu ikatan. Apabila ia berwudhu, terurailah satu ikatan. Apabila ia shalat, terurailah satu ikatan. Maka ia pun menjadi bersemangat dan berjiwa baik. Jika tidak, ia menjadi berjiwa buruk lagi malas.”

Bersiwak: Amalan Sederhana yang Sangat Diperhatikan Nabi ﷺ

(HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap ikatan ia berkata: “Malammu panjang, maka tidurlah.” Ia tidak menginginkannya kita shalat.

Oleh karena itu, shalat yang paling berat bagi manusia di zaman ini adalah shalat Subuh. Setan telah mengikat tengkuk manusia dengan tiga ikatan, sebagaimana hadits diatas.

Ada sahabat yang berkata kepada Nabi ﷺ: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Fulan tidur hingga pagi (matahari sudah terbit) dan ia belum shalat Subuh,” beliau lantas berkata:

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ
Mengusap Khuf: Kemudahan dalam Syariat Islam

“Itu adalah laki-laki yang setan telah kencing di telinganya.”

(HR. Bukhari, no. 3270; Muslim, no. 774)

Setan, ya. Ia tidak ingin kita shalat. Ia tidak ingin kita bangun untuk menghadap Allah ﷻ.

Mengapa Istinsyaq Tiga Kali pada waktu Subuh itu Penting?

Mengapa kita perlu beristinsyaq—menghirup air ke hidung—tiga kali pada waktu Subuh? Sebagian ahli ilmu bahkan mewajibkannya. Menurut mereka, istinsyaq cukup dilakukan satu kali, kecuali pada pagi hari ketika akan shalat Subuh. Pada waktu itu, sebagian ahli ilmu mewajibkan istinsyaq dan istintsar tiga kali, karena setan bermalam di ujung hidung seorang hamba. Ia tidur di hidungnya, sehingga membuatnya berat untuk bangun dan lebih memilih melanjutkan tidurnya.

Tidakkah kita perhatikan bagaimana kepala kita terasa begitu berat? Sebagian kita begadang sepanjang malam, lalu baru benar-benar tertidur menjelang Subuh, dan datanglah rasa kantuk yang sangat ke matanya.

Mengapa setan tidak datang mengganggu tidur kita pada jam 12? Mengapa justru pada jam 3.30? Mengapa ia menutup tidur kita dengan sebaik-baiknya sebelum azan Subuh? Karena ia menuangkan “madu setan” yang busuk ke atas mata kita, lalu memberatkan kepala kita. Ia mendatangi khaisyum—ujung hidung—kita. Maka kita pun beristintsar untuk menghilangkan pengaruh setan dari diri kita agar kita bisa bangun.

Rasulullah ﷺ berkata: “Jika ia bangun dan menyebut Allah, terurailah satu ikatan. Jika ia berwudhu, terurailah satu ikatan. Jika ia shalat, terurailah satu ikatan. Jika tidak, ia menjadi khabitsan nafsan kaslan (jiwa yang buruk lagi malas).”

Tidak Sholat Subuh Adalah Awal Kehancuran

Dan salah satu sebab terbesar dari depresi, kesempitan, rasa letih, perubahan akhlak perilaku, dan buruknya tabiat seseorang adalah mereka menjalani aktifitas hari tanpa sholat subuh. Mereka keluar dari rumahnya tanpa jaminan Allah ﷻ—ia tidak shalat Subuh berjamaah karena setan mencegahnya datang ke rumah-rumah Allah ﷻ.

Maka jika ia tidak bangun, setan dan pembantu-pembantunya menguasainya untuk merusak khusyuknya. Oleh karena itu, kita berada dalam pertarungan, kita berada dalam pertarungan, dalam jihad. Karena setan berkata:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

(QS. Al-A’raf, ayat 17)

Tidak ada tempat di depan, belakang, kanan, kiri. Oleh karena itu, ia membunuhmu secara diam-diam. Ia tidak menginginkanmu shalat. Mengapa? Karena shalat itu memimpin semua ketaatan ibadah dalam hidup manusia. Jika shalat kita rusak, maka jangan bertanya tentang ketaatanmu yang tersisa.

Hakikat Khusyuk

Khusyuk adalah rasa takut dalam hati, ketundukan hati, kerendahan hati, dan tunduknya hati di hadapan Allah ﷻ. Dengan khusyuk inilah seseorang dapat merasakan kelezatan dalam ibadah shalat.

Di salah satu kota di Indonesia, pernah terjadi seorang imam yang melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Gerakan shalatnya begitu cepat sehingga banyak masyarakat justru menyukainya. Mereka merasa senang karena shalat dapat selesai dalam waktu yang sangat singkat.

Padahal, jika khusyuk adalah menghadirkan ketundukan hati di hadapan Allah ﷻ, maka bagaimana mungkin seseorang dapat merasakan kelezatan shalat jika ia menunaikannya dengan tergesa-gesa?

Demikian pula yang terjadi pada sebagian imam di kota Riyadh Arab Saudi. Ada seorang imam yang mendapat keluhan karena shalatnya terlalu cepat. Bahkan, dalam shalat Tarawih, ada orang-orang yang justru memuji imam yang dapat menyelesaikan shalat dalam waktu hanya beberapa menit. Mereka mengatakan, “Inilah imam yang terbaik. Imam kita hanya tujuh menit.”

Padahal, wahai seorang imam, apakah engkau menyadari bahwa dengan mempercepat shalat seperti itu, engkau telah membuka kesempatan bagi setan untuk menghalangi hamba-hamba Allah ﷻ dari mendapatkan kekhusyukan ketika mereka sedang berdiri di hadapan-Nya?

Ketika imam hanya mempercepat gerakan dari Allahu Akbar, kemudian Sami‘allahu liman hamidah, lalu Allahu Akbar, tanpa memberikan ketenangan dalam setiap gerakan, maka shalat seperti ini tidak sesuai dengan shalat yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, apabila engkau melihat seseorang mempercepat shalatnya, ingatlah bahwa Rasulullah ﷺ telah menegur orang yang shalatnya tidak dilakukan dengan benar. Dalam hadits yang shahih, beliau ﷺ bersabda:

ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

“Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ melihat seseorang melaksanakan shalat. Ia telah rukuk, sujud, berdiri, dan melakukan gerakan-gerakan shalat lainnya. Namun, Rasulullah ﷺ tetap mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau belum shalat.”

Mengapa demikian?

Karena shalat yang dilakukan dengan cara seperti itu bukanlah shalat sebagaimana yang Allah ﷻ syariatkan kepada hamba-hamba-Nya. Shalat yang dilakukan tanpa ketenangan dan tanpa tuma’ninah bukanlah shalat yang sempurna sebagaimana mestinya, dan dapat menjadi sebab tidak diterimanya shalat seseorang.

Demi Allah, ini merupakan salah satu bentuk kerugian yang sangat besar.

Karena itu, para ulama mengingatkan:

“Pencuri yang paling berbahaya adalah orang yang mencuri dari shalatnya sendiri.”

Pencuri yang Paling Berbahaya

Sebagian manusia mencuri harta orang lain. Ada yang mencuri dan merampas hak orang lain. Akan tetapi, pencuri yang paling berbahaya adalah orang yang mencuri dari dirinya sendiri—yaitu orang yang mencuri dari shalatnya.

Ketika kita hendak melaksanakan shalat, pikiran kita sering kali masih tertuju kepada anak-anak, pekerjaan, perdagangan, dan berbagai urusan dunia lainnya. Padahal, siapa yang akan menjaga semua itu untuk kita? Allah ﷻ.

Kalau demikian, ketika kita berdiri di hadapan Allah ﷻ, mengapa kita justru berpaling dari-Nya? Mengapa kita tidak menghadapkan hati kepada-Nya? Mengapa kita tidak melaksanakan shalat dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan?

Sebab, segala sesuatu yang menjadi perhatian kita, semuanya berada di tangan Dzat yang saat ini kita berdiri di hadapan-Nya.

Setan tidak ingin kita mengingat hal ini. Ia ingin kita terus memikirkan segala sesuatu yang ada di tangan kita dan melupakan siapa yang sebenarnya menguasai semuanya.

Kita memiliki berbagai harapan dan keinginan. Tetapi, di tangan siapa realisasi semua harapan kita itu? Kepada siapa kita berharap agar segala keinginan kita terwujud?

Pasti semuanya berada di tangan Allah ﷻ.

Dengan demikian, ketika kita berdiri untuk melaksanakan shalat, bukankah semestinya hati kita juga tunduk kepada-Nya? Bukankah semestinya kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita pikirkan, kita khawatirkan, dan kita harapkan, semuanya berada dalam kekuasaan Allah ﷻ?

Allah ﷻ Menyeru Hamba-Nya di Sepertiga Malam Terakhir

Di antara keagungan Allah ﷻ adalah bahwa Dia turun dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, Subhanahu wa Ta’ala, pada sepertiga malam terakhir. Pada waktu itu, Allah ﷻ menyeru hamba-hamba-Nya dan membuka kesempatan bagi mereka untuk memohon kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’”

(HR. Bukhari, no. 1145; Muslim, no. 758)

Namun, sebagian dari kita justru melewatkan waktu yang begitu agung ini dalam keadaan tertidur. Kita bahkan mendengkur ketika sepertiga malam terakhir tiba.

Bayangkan jika seorang pedagang berkata kepada kita, “Saya akan memberikan sebuah mobil kepada Anda.” Jika kita benar-benar yakin bahwa orang tersebut akan memenuhi janjinya, tentu kita akan menunggunya. Bahkan, meskipun harus menunggu dalam waktu yang lama, kita tetap akan menanti karena percaya bahwa janji tersebut akan ditepati.

Kita mungkin berkata, “Dia sudah berjanji kepada saya. Dia adalah orang yang menepati janji dan tidak berdusta. Semoga Allah ﷻ mengirimkan apa yang telah dijanjikannya kepada saya.”

Lalu, bagaimana dengan janji dan karunia dari Allah ﷻ?

Segala sesuatu yang kita butuhkan berada di tangan-Nya. Bahkan apa yang tersembunyi dalam hati kita pun Dia mengetahuinya. Apa yang kita harapkan, apa yang kita minta, dan apa yang kita butuhkan, semuanya berada dalam kekuasaan Allah ﷻ.

Lantas, mengapa kita tidak terjaga untuk-Nya?

Mengapa kita tidak bangun pada akhir malam untuk bermunajat kepada-Nya? Mengapa kita tidak datang untuk menghadap Allah ﷻ, memohon kepada-Nya, dan mengetuk pintu-pintu rahmat-Nya?

Bukankah segala sesuatu yang kita harapkan berada di tangan Allah ﷻ?

Allah ﷻ Turun Mendengar Kebutuhan Hamba-Nya

Di antara keagungan Allah ﷻ adalah bahwa Dia turun dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, Subhanahu wa Ta’ala. Pada sepertiga malam terakhir, Allah ﷻ menyeru hamba-hamba-Nya dan mendengar kebutuhan mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’”

(HR. Bukhari, no. 1145; Muslim, no. 758)

Namun, sebagian kita justru melewatkan waktu tersebut dalam keadaan tertidur lelap. Kita mendengkur ketika sepertiga malam terakhir tiba.

Bayangkan jika seorang pedagang berkata kepada kita, “Saya akan memberikan sebuah mobil kepada Anda.” Karena percaya kepada janjinya, kita rela terjaga hingga akhir malam, bahkan menunggu selama bertahun-tahun. Bisa jadi mobil yang dijanjikan belum juga datang atau bahkan jenis mobil yang kita inginkan sudah tidak tersedia. Namun, kita tetap menunggu karena percaya kepada orang tersebut.

Kita mengatakan, “Dia sudah berjanji kepada saya. Dia adalah orang yang menepati janji dan tidak berdusta. Semoga Allah ﷻ mengirimkan mobil itu kepada saya.”

Kalau demikian, bagaimana mungkin kita begitu bersungguh-sungguh menunggu pemberian dari seorang manusia, sementara Rabb kita, Allah ﷻ, memiliki segala sesuatu yang kita butuhkan?

Segala sesuatu berada di tangan-Nya. Bahkan apa yang tersembunyi di dalam hati kita pun Dia mengetahuinya. Apa yang kita butuhkan, apa yang kita harapkan, semuanya berada dalam kekuasaan-Nya.

Lalu, mengapa kita tidak terjaga untuk menghadap-Nya? Mengapa kita tidak bangun pada akhir malam untuk berdoa kepada-Nya? Mengapa kita tidak segera mendatangi rumah-Nya untuk bermunajat dan memohon kepada-Nya?

Shalat Cermin Tauhid Kita Kepada Allah

Tahukah kita mengapa? Karena tauhid membutuhkan muraja’ah—peninjauan dan penguatan kembali—serta hal-hal yang menguatkan hubungan kita dengan Allah ﷻ.

Salah satu sarana terbesar untuk membersihkan dan menguatkan tauhid adalah ketika kita berdiri di hadapan Allah ﷻ, bermunajat kepada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Sebab, shalat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ

“Amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.”

(HR. Tirmidzi, no. 413; An-Nasa’i; Ibnu Majah; dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Namun, jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan merugi.”

(HR. Tirmidzi, no. 413)

Allahu Akbar.

Betapa besar kedudukan shalat. Ia bukan sekadar ibadah yang kita kerjakan setiap hari, tetapi merupakan amal pertama yang akan diperhitungkan pada hari kiamat. Karena itu, kita perlu terus melakukan muraja’ah terhadap shalat kita: bagaimana kita menunaikannya, bagaimana kekhusyukan kita di dalamnya, dan bagaimana hati kita ketika berdiri di hadapan Allah ﷻ.

Shalat Sunnah Menyempurnakan Kekurangan Shalat Wajib

Oleh karena itu, Allah ﷻ mensyariatkan bagi kita berbagai macam shalat nafilah atau shalat sunnah. Di antara hikmahnya adalah untuk menyempurnakan kekurangan yang terdapat dalam shalat wajib kita.

Ketika kita tidak mampu menghadirkan kekhusyukan secara sempurna dalam shalat fardhu, shalat-shalat sunnah menjadi salah satu amalan yang dapat melengkapi kekurangan tersebut.

Karena itu, jika kita melihat seseorang yang tidak memperhatikan sunnah-sunnah rawatib, para ulama memberikan perhatian yang besar terhadap hal tersebut. Imam Ahmad rahimahullah dan para ulama lainnya memberikan peringatan keras kepada orang yang meremehkan shalat sunnah.

Sebab, bagaimana mungkin kita mengaku menjaga shalat, sementara shalat-shalat sunnah yang menjadi penyempurna shalat wajib justru kita tinggalkan?

Oleh karena itu, ketika kedudukan shalat mulai berkurang dalam hati kita, atau kekhusyukan kita semakin berkurang, hendaknya kita waspada. Ketahuilah, berkurangnya perhatian kita terhadap shalat dapat menjadi tanda bahwa pengagungan kita kepada Allah ﷻ juga mulai berkurang dalam hati.

Allah ﷻ adalah Dzat Yang Maha Agung. Ketika seorang hamba berdiri di hadapan-Nya, bermunajat kepada-Nya, dan menghadap kepada-Nya dalam shalat, maka sudah semestinya hati kita dipenuhi pengagungan kepada-Nya.

Maka, marilah kita perhatikan kembali keadaan hati kita ketika berdiri dalam shalat. Seberapa besar pengagungan kita kepada Allah ﷻ ketika kita bermunajat kepada-Nya?

Penutup

Demikianlah, shalat bukan sekadar kewajiban yang harus kita tunaikan. Shalat adalah perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya. Di dalamnya terdapat munajat, ketundukan, dan pengagungan kepada Allah ﷻ.

Karena itu, jika shalat kita mulai terasa ringan, dilakukan dengan tergesa-gesa, dan hati kita semakin jauh dari kekhusyukan, hendaknya kita waspada. Jangan sampai ada sesuatu yang telah mencuri dari shalat kita. Sebab, pencuri yang paling berbahaya adalah orang yang mencuri dari shalatnya sendiri.

Maka, marilah kita menjaga shalat kita. Kita jaga waktunya, kita jaga kesempurnaannya, dan kita jaga kekhusyukan hati ketika berdiri di hadapan Allah ﷻ. Terlebih shalat Subuh, yang menjadi salah satu waktu ketika gangguan setan begitu kuat.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang khusyuk dalam shalat, yang shalatnya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta menjadikan shalat sebagai penyejuk hati dan mata kita, sekaligus penghubung yang mendekatkan kita kepada Allah ﷻ.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

03

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

04

Rahasia Khusyuk dalam Shalat dan Pengaruhnya bagi Kehidupan

05

Bahaya Mengkafirkan Saudara Sendiri

Terbaru

01

Mengapa Shalat Kita Tidak Mencegah dari Maksiat?

02

Rahasia Khusyuk dalam Shalat dan Pengaruhnya bagi Kehidupan

03

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

04

Bersiwak: Amalan Sederhana yang Sangat Diperhatikan Nabi ﷺ

05

Mengusap Khuf: Kemudahan dalam Syariat Islam