Home » Blog » Fitnah Dan Adu Domba

Fitnah Dan Adu Domba

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ ٱللَّٰهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : لَا يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ نَمَّامٌ

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.’” Dalam riwayat lain, “Orang yang suka memfitnah.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Adu domba dan fitnah, keduanya bisa merusak tatanan masyarakat. Islam mengatur umatnya agar hidup dalam kedamaian dan ketenteraman. Upaya preventif dilakukan Islam pada setiap celah yang mengarah menuju kerusakan, baik individu maupun kelompok. Termasuk di antara hal-hal yang merusak kehidupan bermasyarakat adalah adu domba dan fitnah.

Maka, qattaatun sama dengan nammaamun, yaitu mendengar cerita buruk kemudian menyebarluaskannya. Qattaatun lebih ditekankan pada pengertian orang yang berusaha mendengar secara diam-diam kemudian menyebarluaskannya. Adapun nammaamun yaitu orang yang menceritakan kembali perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan mencoreng nama baik, menjatuhkan martabat, menghancurkan, dan memfitnah. Arti dasar dari kata ini adalah suara dan gerakan yang halus.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang al-adlhu? Al-adlhu adalah pembicaraan (dusta) yang disebarkan di tengah-tengah orang banyak.”

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

Imam adz-Dzahabi berkata, “Namimah adalah menyebarkan berita di tengah-tengah manusia dengan tujuan merusak.”

Larangan Ikut Menyebarkan Fitnah dan Adu Domba

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (QS. Al-Qalam, ayat 10–12)

Dalam ayat tersebut, Allah ﷻ melarang untuk menaati orang yang banyak mencela, suka ingkar janji, suka mencoreng nama baik orang lain, dan suka menebar fitnah.

Orang yang demikian hanya akan menyuburkan benih-benih bencana dan permusuhan di kalangan kaum muslimin. Menanamkan kedengkian, memutuskan jalinan hubungan, dan memecah belah persatuan.

Cukup Kita Berdua yang Tahu

Adu domba dan fitnah menjadikan dua orang yang sebelumnya merupakan kawan baik berubah menjadi musuh, memisahkan suami dari istrinya, anak dari bapaknya, dan seseorang dari saudaranya. Begitu seterusnya.

Lebih dari itu, perbuatan yang ia lakukan mengaburkan sebuah permasalahan yang sudah jelas. Ia memutarbalikkan fakta: yang benar menjadi salah, dan yang salah terlihat benar. Ia selalu merentangkan kejahatan. Ia bagaikan pembawa kayu bakar yang terus menyalakan api fitnah di tengah-tengah umat.

Oleh karena itu, Allah ﷻ mengingatkan kita bahwa jika ada kabar yang dibawa olehnya, hendaknya diteliti terlebih dahulu. Tidak boleh diterima begitu saja.

Allah ﷻ berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat, ayat 6)

Memilih Teman, Menjaga Akhlak

Oleh karena itu, tidak sepantasnya kaum muslimin terpengaruh oleh berita atau kabar yang dibawa oleh orang-orang fasik, apalagi jika kabar itu datang dari orang-orang yang tidak beriman.

Memfitnah dan Mengadu Domba Itu Dosa Besar

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Suatu ketika Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan, lalu bersabda, ‘Penghuni dua kubur ini mendapatkan siksa karena dosa besar? Benar, dosa itu besar! Yang satu dahulu ke sana kemari mengadu domba. Sedangkan yang satunya lagi tidak membuat penutup (tidak berhati-hati) ketika buang air kecil.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam adz-Dzahabi dalam Al-Kaba’ir berkata, “Adapun hukum namimah adalah haram sebagaimana kesepakatan kaum muslimin. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menyatakan tentang keharamannya.”

Dalam hadis tersebut telah nyata bahwa mengadu domba dan memfitnah di tengah-tengah kaum muslimin dengan tujuan untuk merusak adalah haram dan dosa besar.

Akibat Mengadu Domba dan Memfitnah

Siapa menabur benih akan memetik buahnya, begitu kata pepatah. Adu domba dan fitnah adalah benih-benih yang akan berbuah siksa sangat pedih di neraka sebagai akibat dari ulahnya. Hal itu sebagaimana dipaparkan dalam hadis tersebut.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Kalian akan menemukan manusia paling buruk. Dia mempunyai dua wajah, datang ke kelompok yang satu dengan wajah itu, lalu ia datang ke kelompok yang satunya lagi dengan wajah yang berbeda. Oleh karena itu, barang siapa yang mempunyai dua lisan, maka Allah akan menjadikan dua lisan untuknya dari api neraka besok pada hari kiamat.” (HR. Malik, Bukhari, dan Muslim)

Sikap terhadap Pelakunya

  1. Tidak perlu dipercaya, karena ia adalah orang yang fasik.
  2. Mencegah dan menasihatinya, bahwa perbuatan tersebut adalah haram.
  3. Membencinya karena Allah, karena ia juga dibenci di sisi Allah. Membenci karena Allah merupakan bagian dari kewajiban seorang muslim.
  4. Melakukan klarifikasi terlebih dahulu, karena berburuk sangka tidak diperbolehkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

04

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

05

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya