Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Terhinalah seseorang yang memasuki bulan Ramadhan, lalu Ramadhan telah berakhir sebelum ia diampuni (dosa-dosanya).”
(HR. Tirmidzi)
Bulan Ramadhan telah usai. Satu dari inti adanya Ramadhan adalah untuk penataran kepada para hamba. Seorang muslim dilatih oleh Allah ﷻ supaya berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Mulai berpuasa, shalat berjamaah, shalat malam, membaca Al-Qur’an, pengajian-pengajian, shadaqah, membayar zakat, berdzikir, keterpautan dengan masjid, dan amalan-amalan lainnya, untuk diterapkan juga di bulan setelah Ramadhan.
Oleh karena itu, sudah selayaknya seseorang tidak meninggalkan apa yang biasa ia kerjakan di bulan Ramadhan dari berbagai amal shalih tersebut. Dan alangkah baiknya jika amalan-amalan tersebut tetap dipertahankan meski dengan intensitas yang lebih sedikit dibanding dalam bulan Ramadhan. Berikut ini beberapa contoh amal shalih yang dapat membantu kita untuk lebih beristiqamah dalam beramal:
Puasa Sunnah
Selain kewajiban kita untuk berpuasa penuh di bulan Ramadhan, tentunya puasa sunnah adalah bentuk amal shalih yang layak kita pertahankan dan terus dipraktikkan meski Ramadhan telah berlalu. Misalnya berpuasa 6 hari di bulan Syawwal. Dengan mempraktikkan puasa ini, maka seolah-olah kita berpuasa setahun penuh lamanya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian ia mengiringinya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal maka ia seakan-akan berpuasa setahun penuh.”
(HR. Muslim)
Imam Ahmad dan An Nasa’i meriwayatkan dari Tsauban, Nabi ﷺ bersabda, “Shaum Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (shaum) sepuluh bulan, sedangkan shaum enam hari (di bulan Syawwal, pahalanya) sebanding dengan (shaum) dua bulan, maka itulah bagaikan shaum selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Dan puasa Syawwal ini tidak dikhususkan untuk berpuasa secara berturut-turut, tetapi bertahap pun juga diperbolehkan. Kemudian kebiasaan untuk berpuasa di hari Senin dan Kamis, puasa 3 hari pada tanggal 13, 14, 15 tiap bulan Hijriyah, atau berpuasa sebagaimana Nabi Daud ‘alaihissalam, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.
Dari jenis puasa tersebut kita bisa merutinkan apa yang termudah dan bisa kita lakukan. Mudah-mudahan dengan itu semua kita mendapatkan kabar gembira sebagaimana yang telah disampaikan dari Rasulullah ﷺ untuk orang-orang yang ahli berpuasa:
“Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, dan tak ada orang selain mereka yang dapat memasukinya. Jika telah masuk orang terakhir yang berpuasa ditutuplah pintu tersebut, dan barangsiapa yang masuk ia akan minum dan barangsiapa yang minum tak akan merasa haus untuk selamanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat Malam/Lail
Shalat tarawih yang biasa kita lakukan setiap malam Ramadhan sebenarnya adalah shalat lail sebagaimana tahajjud dan witir. Alangkah baiknya jika shalat lail tetap ditegakkan di bulan-bulan lainnya. Bagi pemula, shalat tahajjud yang dikerjakan setelah tidur mungkin agak berat sehingga memerlukan latihan yang bertahap. Paling minimal kita menjaga shalat witir tiap malam. Kalaupun masih berat dilakukan pada seperdua atau sepertiga malam setelah tidur, maka witir bisa dikerjakan sebelum beranjak untuk tidur. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barangsiapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam itu dipersaksikan.”
(HR. Muslim)
Shalat Berjamaah
Pada bulan Ramadhan, khususnya di malam awal-awal Ramadhan, masjid menjadi ramai. Tapi sayang, seiring dengan berlalunya Ramadhan, masjid kembali sepi sebagaimana semula. Alangkah baiknya kewajiban shalat berjamaah di masjid (terkhusus untuk laki-laki) hendaknya tidak ditinggalkan begitu saja, tetapi tetap dipertahankan dengan kesungguhan.
Tadarrus Al-Qur’an
Pada Ramadhan lalu mungkin di antara kita ada yang sempat khatam Al-Qur’an satu, dua, atau bahkan lebih tiga kali. Keakraban dengan Al-Qur’an yang terbina pada bulan Al-Qur’an tersebut sedapat mungkin tetap terjaga pada bulan-bulan lainnya. Utsman bin Affan—radhiyallahu ‘anhu—pernah mengatakan bahwa seharusnya seorang muslim membaca Al-Qur’an sekurangnya 80 ayat tiap hari.
Pada bulan lain pun seharusnya kita punya target untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, misalnya satu bulan sekali. Kalaupun dirasa berat, maka bisa sekali khatam dalam dua atau tiga bulan. Ini akan terasa ringan jika tiap hari kita menyediakan waktu khusus untuk bersama dengan Al-Qur’an meski sebentar.
Tentu saja kedekatan dengan Al-Qur’an kita tidak inginkan hanya sebatas huruf-huruf saja, tapi mengetahui makna-makna yang terkandung di dalamnya, kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya. Itu merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan itu, mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yang diadukan oleh Rasulullah ﷺ kepada Allah ﷻ sebagaimana dalam Al-Qur’an:
“Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.’”
(QS. Al-Furqan, ayat 30)
Shadaqah
Bulan Ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi fakir miskin. Bagaimana tidak? Banyak di antara orang-orang yang punya menjadikan Ramadhan sebagai bulan berbagi. Shadaqah di bulan Ramadhan memang lebih utama dibandingkan di luar Ramadhan, karena Nabi ﷺ menyebutnya dengan bulan muwasah/saling tolong menolong. Nabi ﷺ sangat dermawan di bulan Ramadhan, tepatnya ketika malaikat Jibril menemuinya. Rasulullah ﷺ lebih dermawan terhadap hartanya daripada angin yang berhembus. Tapi beliau tetaplah seorang yang dermawan di luar bulan Ramadhan.
Berdoa
Tak satupun di antara kita yang bisa memastikan amalan ibadah pada bulan Ramadhan diterima oleh Allah ﷻ atau tidak. Pada akhirnya kita tetap berharap mudah-mudahan keikhlasan dan keinginan untuk ittiba’ (mengikuti) Rasulullah ﷺ menjadi sebab diterimanya amalan ibadah kita. Ulama salaf memberikan teladan kepada kita, bahwasanya 6 bulan setelah Ramadhan maka salah satu lantunan doa yang senantiasa keluar dari bibir mereka adalah agar amalan ibadah mereka yang telah dikerjakan pada bulan Ramadhan diterima oleh Allah ﷻ. Mereka begitu khawatir jangan sampai amalan mereka sia-sia. Tentunya kita pada generasi sekarang ini lebih berhak untuk itu.
Itulah sekelumit amalan-amalan yang sebaiknya tetap dipertahankan agar kita menikmati Ramadhan sepanjang masa dan ketakwaan yang telah tumbuh tak layu meski Ramadhan telah berlalu.
Wallahu a’lam.


Komentar