Home » Blog » Karena Pengaruh Teman

Karena Pengaruh Teman

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi bisa memberimu minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.”

(HR. Bukhari)

Di antara sunnah kehidupan bermasyarakat yang begitu mengakar pada manusia adalah persahabatan. Merupakan bagian dari tabiat manusia untuk berbaur dengan orang lain, berkenalan dengan mereka, menjadikan sebagian dari mereka sebagai teman dekat, serta hidup bersama dalam persaudaraan dan kecintaan.

Demikian itu karena Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Islam sangat memberikan perhatian terhadap pendidikan sosial karena hal itu akan memberikan dampak positif pada perilaku dan perasaan batin seseorang yang akhirnya berpengaruh terhadap agama, akhlak, kebiasaan, dan emosi.

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

Tatkala seorang muslim pandai memilih teman yang saleh bagi dirinya dan keluarganya, berarti ia telah membuka pintu pendidikan dalam memperbaiki dan mengembangkan kebaikan dalam diri dan keluarganya. Terlebih dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kebahagiaan, kebaikan, dan keberkahan senantiasa menyertai kehidupannya.

Pada hadits tersebut terdapat petunjuk dan arahan yang sangat mulia dalam pergaulan. Nabi ﷺ mengarahkan umatnya agar bergaul dengan orang-orang saleh dan berakhlak mulia karena mereka memiliki pengaruh terhadap kepribadian dan kebaikan seseorang. Setiap teman pasti mencontoh temannya.

Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang hina dan jahat dapat menjerumuskan kepada kecelakaan. Rasulullah ﷺ memberikan dua permisalan yang gamblang untuk menjelaskan hal itu, yaitu penjual minyak wangi dan pandai besi. Ilustrasi tersebut cukup untuk memberikan pengertian kepada umatnya tentang manfaat bergaul dengan orang-orang saleh dan bahaya bergaul dengan orang-orang jahat.

Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub dalam Kitabul Adab mengatakan bahwa di antara adab dalam bergaul adalah mencari teman yang mempunyai perilaku baik. Lantas beliau mengutip hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah secara marfu’:

“Seorang laki-laki itu tergantung pada perilaku kawannya, maka lihatlah dengan siapa ia bergaul.”

Cukup Kita Berdua yang Tahu

Artinya, kebiasaan manusia akan terpengaruh oleh perilaku kawannya. Oleh karenanya, perhatikanlah dengan siapa ia bergaul. Jika ia rela dengan agama dan akhlaknya, maka berkawanlah dengannya. Jika tidak, maka jauhilah, karena watak itu pencuri. Demikian yang dikatakan dalam Aunul Ma’bud, syarah Sunan Abi Dawud, jilid 7, hlm. 123.

Melihat betapa pentingnya berkawan dengan orang-orang saleh, para sahabat senantiasa berusaha mengunjungi orang-orang baik dari kalangan orang-orang saleh yang senantiasa mengingatkan orang lain kepada Allah dan hari akhir. Mereka juga melembutkan hati dengan nasihat dan mengingatkan akan siksaan-Nya pada hari kiamat kelak.

Mengenai hal ini, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Umar setelah wafatnya Nabi ﷺ:

“Ikutlah bersama kami untuk menemui Ummu Aiman, wanita yang pernah menyusui Nabi ﷺ. Kita berkunjung kepadanya seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.”

Pada saat Abu Bakar dan Umar sampai di rumahnya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya berkata kepadanya:

Memilih Teman, Menjaga Akhlak

“Mengapa engkau menangis? Bukankah apa yang berada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah ﷺ?”

Ummu Aiman menjawab:

“Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasulullah ﷺ, tetapi aku menangis karena wahyu sudah tidak akan pernah lagi turun dari langit.”

Maka keduanya pun menangis bersama Ummu Aiman.

(HR. Muslim)

Dari cerita tersebut dapat diambil manfaat bahwa majelis-majelis orang-orang saleh yang di dalamnya nama Allah disebut dan terdapat perbincangan mengenai hal-hal yang bermanfaat akan dikelilingi oleh malaikat serta mendapatkan rahmat Allah.

Dengan majelis-majelis yang seperti itu, jiwa menjadi bersih dan akal akan semakin terbuka. Oleh karena itu, hendaknya setiap mukmin yang saleh senantiasa memperbanyak majelis-majelis yang membawa kemanfaatan dunia maupun akhirat, sehingga mereka dapat memetik buahnya yang manis, memperoleh berkah yang besar di dunia, dan mendapatkan kedudukan yang terpuji di akhirat kelak.

Seorang muslim yang benar-benar sadar akan pancaran sinar agamanya tidak akan merasa terhina karena bergaul dengan kawan-kawan yang saleh, meskipun secara lahiriah status sosial dan tingkat materi mereka tidak setingkat dengannya. Yang menjadi patokan adalah substansi kepribadiannya, bukan penampilan dan kekayaannya.

Semoga tidak lepas dari ingatan setiap muslim yang saleh bahwa manusia ini seperti barang tambang. Ada yang kualitasnya bagus dan ada yang kualitasnya buruk. Demikian halnya dengan manusia, seperti yang diuraikan Rasulullah ﷺ dalam haditsnya ketika beliau mengklasifikasikan mereka:

“Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak. Yang paling baik di antara mereka pada zaman jahiliah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka memahami. Dan ruh-ruh itu laksana pasukan tentara yang dikerahkan. Yang saling mengenal akan akrab, sedangkan yang tidak saling mengenal akan saling menjauhi.”

(HR. Muslim)

Dari petunjuk hadits di atas, seorang muslim yang saleh akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam: teman yang saleh dan teman yang jahat.

Teman yang saleh laksana pembawa minyak wangi yang akan menyebarkan aroma harum dan wewangian. Sedangkan teman yang jahat laksana peniup api pandai besi. Orang yang berada di sisinya akan terkena asap, percikan api, dan sesak napas.

Ada sebuah syair:

“Pergaulanmu dengan orang-orang yang mulia menjadikanmu termasuk golongan mereka. Karenanya, janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka.”

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“Seyogianya manusia mencari teman dari golongan orang-orang baik yang senantiasa menyeru kepada Allah pagi dan sore karena Allah. Janganlah punya keinginan untuk bersama dengan para pejabat dan orang-orang besar. Bahkan, tidak patut seorang muslim berteman dengan mereka kecuali ada kemaslahatan yang nyata, seperti amar makruf nahi mungkar atau menjelaskan tentang kemaslahatan umat. Maka hal itu sangat baik.

Namun, jika hanya sekadar meraih kebanggaan ketika bersama dengan mereka, maka hal itu sangatlah tidak terpuji. Sebaliknya, ia akan dipuji jika bersama dengan orang-orang yang bertakwa, baik dari kalangan orang kaya maupun miskin, yang status sosialnya rendah maupun tinggi. Yang pokok adalah keridhaan Allah dan cinta kepada-Nya.

Sungguh, akan mendapatkan manisnya iman orang yang mencintai seseorang karena cintanya kepada Allah, memusuhi orang yang memusuhi Allah, serta mencintai dan membenci karena Allah. Semoga kita dan Anda semua termasuk orang-orang yang cinta dan benci karena Allah ﷻ.”

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

04

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

05

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya