Era modernisasi bukan berarti semuanya serba teknologi canggih. Dunia sihir dan klenik, keduanya tetap mendapatkan tempat di hati sebagian masyarakat. Kemasan sihir begitu menawan. Ada yang bersembunyi di balik pengobatan alternatif, ada juga yang bersembunyi dengan kedok meditasi dan lain sebagainya. Apa pun itu, yang jelas, semuanya laris bak pisang goreng.
Sihir dan pelakunya, dalam Islam, tidak mendapatkan tempat. Bahkan, keduanya adalah sesuatu yang tercela, meskipun kadang dilakukan dengan alasan untuk menolong orang yang sedang mengalami kesusahan.
Hal ini karena praktik sihir tidak terlepas dari peran di belakang layar yang dimainkan oleh setan dan bala tentaranya. Itu semua tentu bukan hanya sebagai hadiah belaka, melainkan ada kontrak kerja yang sesungguhnya amat menguntungkan setan dan bala tentaranya.
Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, sihir merupakan rangkaian dari berbagai pengaruh roh-roh jahat dan pengaruh kekuatan tabiat yang berasal dari roh jahat.
Sihir merupakan persekongkolan antara tukang sihir dengan setan. Caranya, tukang sihir melakukan sebagian dari hal-hal yang diharamkan atau berupa kesyirikan sebagai transaksi agar setan mau membantunya dan tunduk untuk menuruti segala permintaannya.
Jin tidak mau mengabdi kepada tukang sihir kecuali dengan sebuah imbalan. Tukang sihir dan jin merupakan pasangan yang saling bertemu untuk melakukan kedurhakaan kepada Allah.
Di antara dalil yang menunjukkan keberadaan jin dan hubungan manusia dengan mereka adalah firman Allah ﷻ:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin, ayat 6).
Allah ﷻ juga berfirman:
“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al-Falaq, ayat 4).
Al-Qurthubi rahimahullah berkata:
“Maksudnya adalah para wanita tukang sihir yang mempunyai kebiasaan menghembus pada tali-tali sambil membaca mantra.”
Rasulullah ﷺ melarang praktik tersebut, termasuk pula orang yang membenarkan praktik sihir. Beliau ﷺ bersabda:
“Barang siapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkannya, berarti dia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”
(Dishahihkan oleh al-Albani dalam Bulughul Maram, no. 285).
Tanda dan Metode Pengobatan Sihir
Di zaman yang sudah modern ini, kadang seseorang tidak sadar telah terjebak dalam sebuah permainan sihir. Hal ini karena praktik sihir bersembunyi di balik nama pengobatan alternatif atau tradisional dan yang lainnya.
Untuk lebih memudahkan dalam mengenali seorang tukang sihir, berikut ini adalah beberapa tanda atau kebiasaan yang dilakukannya:
- Menanyakan nama pasien dan nama ibunya.
- Mengambil sapu tangan, sobekan kain, atau sejenisnya.
- Pasien harus memberitahukan namanya, kampungnya, dan masalah yang sedang dihadapinya.
- Menuliskan susunan huruf-huruf hijaiyah yang tidak beraturan atau membacanya.
- Meminta binatang atau potongan hewan.
- Memberikan sesuatu kepada pasien agar dipendam di dalam tanah.
- Memberikan kain kepada pasien.
- Terkadang menyuruh pasien untuk tidak bergaul dengan orang banyak.
- Terkadang meminta pasien untuk tidak menyentuh air.
- Kadang meminta pasien melakukan permintaan-permintaan lain yang tidak masuk akal.
Cara Menangkal Sihir
1. Memakan Tujuh Butir Kurma Ajwah
Memakan tujuh butir kurma. Yang paling bagus ialah kurma Madinah.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa yang memakan tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu dia tidak akan terkena dampak racun dan sihir.”
(HR. Bukhari no. 5769).
Ajwah adalah jenis kurma Madinah yang paling bagus, yang sering disebut kurma al-‘Aliyah. Khasiatnya untuk menolak racun dan sihir karena keberkahan doa Nabi ﷺ.
2. Berwudu
Wudu. Sihir tidak akan mempan terhadap orang yang dalam keadaan wudu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sucikanlah jasad ini, niscaya Allah menyucikan kalian. Sesungguhnya tidak ada seorang hamba yang dalam keadaan bersuci pada malam hari, melainkan ada seorang malaikat pada sehelai bulunya. Dia tidak akan membalikkan badan sesaat pun pada malam hari, melainkan malaikat itu berkata, ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu karena malam ini dia dalam keadaan bersuci.’”
(HR. ath-Thabari; al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’, no. 3936). Riwayat lafaz ini tercatat dari Ibnu Abbas dalam al-Mu’jam al-Awsath ath-Thabrani no. 5087.
3. Salat Secara Berjamaah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah ada tiga orang di sebuah kampung atau pedalaman, yang di sana tidak didirikan salat secara berjamaah, melainkan setan menaklukkan mereka. Maka hendaklah engkau mengikuti salat berjamaah, karena serigala hanya memakan domba yang menyendiri.”
(HR. Abu Dawud no. 547; al-Albani menilainya hasan).
Penutup
Sihir bukanlah perkara yang dapat dianggap remeh. Ia merupakan praktik yang tercela dan berkaitan dengan kerja sama antara tukang sihir dan setan. Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga tauhid, memperkuat ibadah, dan menjauhi segala bentuk praktik perdukunan dan sihir.


Komentar