Home » Blog » Mencegah Pengeroposan Tulang: Pentingnya Kalsium dan Aktivitas Fisik

Mencegah Pengeroposan Tulang: Pentingnya Kalsium dan Aktivitas Fisik

Tulang berfungsi memberi bentuk tubuh, menjadi tempat melekatnya otot, serta memberikan perlindungan pada organ-organ di bawahnya.

Vitamin D penting bagi tulang karena berfungsi mengatur pemasukan zat kapur (kalsium), yang merupakan bahan utama tulang dalam tubuh. Kalsium yang telah banyak dibentuk menjadi tulang kemudian mengalami pemadatan bersama beberapa unsur lain sehingga menjadi keras dan kokoh. Keadaan ini terus berlangsung selama seseorang menjalani pertumbuhan hingga berusia sekitar 25–40 tahun.

Sesudah itu, terjadi proses penuaan. Tulang mulai kehilangan kekuatannya dan terus mengalami penurunan. Tulang yang mengalami keadaan rawan secara berturut-turut adalah tulang belakang, paha, pergelangan, dada, dan lengan atas.

Gangguan pada tulang, sendi, dan otot merupakan penyakit yang sering dialami oleh mereka yang sudah tidak muda lagi. Orang awam biasa menyebutnya sebagai encok.

Seiring bertambahnya usia, cairan tubuh berkurang sehingga menyebabkan selaput pembungkus tulang, sendi, dan otot mengering. Kelenturan sendi berkurang dan anggota badan menjadi kaku, terutama pada pagi hari. Kekeringan sendi kadang-kadang menyebabkan sendi berbunyi ketika ditekuk.

Sihir & Terapinya

Keluhan pada tulang belakang antara lain sering terasa di bagian punggung sehingga gerakan bangun dari tidur menjadi sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengeroposan tulang. Zat kapurnya berkurang dan ruas-ruas tulang belakang cenderung menjadi pendek, terutama bagian depannya.

Tulang laki-laki biasanya lebih padat. Setelah umur pembentukan tulang berkurang, sedangkan penyerapan tulang bertambah. Hal ini terutama terjadi pada mereka yang ketika muda kurang mengonsumsi zat kapur atau kalsium, antara lain yang terdapat dalam sayuran dan susu.

Kalsium merupakan unsur utama dalam pembentukan tulang yang diperoleh dari menu makanan sehari-hari, seperti susu dan keju, sayuran, serta beberapa tumbuhan hijau lainnya.

Penyakit pengeroposan tulang ditandai dengan hilangnya sel tulang secara berlebih. Tulang tidak sepadat semula dan terdapat rongga di dalam tulang sehingga menjadi lemah, tidak tahan terhadap tekanan dan benturan, serta mudah mengalami cedera.

Biasanya, akan timbul rasa nyeri dan kemampuan fisik menurun. Pengeroposan tulang sering kali tidak menunjukkan gejala yang dapat diketahui. Dalam kenyataannya, tanda klinis pertama penyakit ini biasanya berupa patah tulang yang menimbulkan rasa nyeri.

Faktor Pengeroposan Tulang

Faktor-faktor risiko pengeroposan tulang tersebut antara lain:

1. Umur

Makin lama seseorang hidup, makin besar kehilangan kepadatan tulangnya dan makin besar kemungkinan mengalami pengeroposan tulang.

2. Keturunan dan jenis kelamin

Kepekaan terhadap patah tulang sebagian disebabkan oleh faktor keturunan dan jenis kelamin. Wanita mempunyai risiko lebih besar daripada pria mengingat kepadatan tulangnya lebih rendah, apalagi setelah menopause.

3. Merokok dan kurang olahraga

Merokok rentan terhadap kesehatan dan menurunkan kadar hormon estrogen. Gaya hidup yang tidak memerlukan banyak bergerak juga dapat meningkatkan risiko pengeroposan tulang.

Latihan fisik penting dalam pembentukan dan mempertahankan kekuatan tulang. Dengan olahraga jalan kaki, tungkai akan menjadi lebih kuat dan tulang menjadi lebih padat. Kurangnya latihan fisik akan mempercepat kehilangan zat tulang.

4. Kerangka tubuh

Seseorang yang memiliki kerangka tubuh lebih kecil cenderung lebih sering mengalami pengeroposan tulang jika dibandingkan dengan orang yang memiliki kerangka tubuh lebih besar.

5. Obat-obatan tertentu

Penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan risiko pengeroposan tulang, antara lain obat antibiotik dan obat antikejang.

Bentuk Pengeroposan Tulang

Ada dua bentuk pengeroposan tulang, yaitu bentuk primer dan sekunder.

Pengeroposan tulang primer terbagi atas dua. Pertama, pengeroposan yang terdapat pada wanita setelah mati haid yang disebabkan oleh hilangnya hormon estrogen. Kedua, pengeroposan yang terdapat baik pada wanita maupun pria karena proses menua.

Pengeroposan tulang sekunder adalah pengeroposan tulang yang terjadi pada semua umur dan disebabkan oleh kelainan hormon, gizi, penyakit-penyakit menahun, serta kondisi tertentu, seperti mereka yang tinggal terlalu lama tanpa bobot pada penerbangan di luar angkasa.

Termasuk dalam golongan ini ialah mereka yang kurang berolahraga atau kurang melakukan kegiatan fisik.

Dengan berolahraga, anggota badan yang harus menyangga beban, seperti paha, tungkai, dan kaki, tulangnya akan menjadi lebih besar dan lebih padat serta mengalami lebih sedikit penyerapan tulang.

Karena itu, olahraga jalan lebih mampu mengurangi kemungkinan pengeroposan tulang daripada naik sepeda atau berenang.

Pencegahan patah tulang sejak dini dapat dilakukan melalui pengaturan gizi yang baik. Mengingat hal tersebut, wanita hamil dan bayi perlu mendapat zat kalsium yang tepat serta teratur pemberiannya.

Menjaga Kesehatan Tulang

Kesehatan merupakan karunia Allah yang harus dijaga. Kesegaran dan kesehatan jasmani harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Mengingat kurangnya gerak akan mempercepat rapuhnya tulang, maka menjaga aktivitas fisik dan memperhatikan asupan gizi merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan tulang.

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *