Kemampuan luar biasa selain mukjizat para nabi dan karamah para wali diistilahkan oleh para ulama dengan ahwal syaithaniyyah. Kemampuan tersebut bukanlah kemuliaan dari Allah, melainkan keadaan yang berkaitan dengan tipu daya dan bantuan setan.
Setan hanya ridha dengan kekafiran. Setan turun menemui Musailamah al-Kadzab dan memberikan bocoran kepadanya tentang perjalanan kaum muslimin. Oleh karena itu, para pengikutnya beranggapan bahwa dia adalah seorang nabi.
Demikian pula al-Aswad al-Ansi mendapatkan bocoran informasi dari setan tentang pasukan kaum muslimin yang menjadi musuh mereka, berkaitan dengan letak pasukan dan lain-lain. Hal ini membuat kaum muslimin merasa takut dan khawatir karena seolah-olah seluruh sepak terjang mereka telah diketahui olehnya.
Pada akhirnya, al-Aswad al-Ansi dibunuh oleh istrinya sendiri ketika ia mengetahui bahwa suaminya hanyalah seorang nabi palsu.
Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:
“Akan muncul dari Bani Tsaqif seorang pembohong besar dan seorang penghancur.”
(HR. Muslim)
Yang dimaksud dengan seorang penghancur adalah al-Hajjaj bin Yusuf, sedangkan sang pembohong adalah al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi.
Orang tersebut mengaku sebagai nabi dan berhasil menaklukkan pasukan kaum muslimin dalam beberapa pertempuran disebabkan informasi cepat yang diberikan oleh setan kepadanya. Akhirnya, pada tahun 67 H, al-Mukhtar diperangi dan dibunuh oleh pasukan Abdullah bin Zubair.
Fakta-fakta di atas merupakan bukti yang membenarkan firman Allah ﷻ:
“Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berbuat dosa.”
(QS. Asy-Syu’ara, ayat 221–222)
Allah ﷻ juga berfirman:
“Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentu menjadi orang-orang musyrik.”
(QS. Al-An’am, ayat 121)
Allah ﷻ berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah tagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah, ayat 257)
Allah ﷻ juga berfirman:
“Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan berfirman), ‘Wahai golongan jin! Kamu telah banyak menyesatkan manusia.’ Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, ‘Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan dari sebagian yang lain, dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Dia berfirman, ‘Neraka itulah tempat kamu menetap, kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki.’ Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am, ayat 128)
Jin Merasa Bangga
Kenikmatan yang diperoleh jin dari manusia adalah pengabdian manusia kepadanya sehingga jin merasa sombong dan berbesar hati. Sedangkan kesenangan yang dirasakan manusia dari jin adalah kemampuan yang dimiliki oleh penyembah jin tersebut, seperti berjalan di atas air, terbang di udara, dan mengetahui beberapa hal yang gaib dengan bantuan jin. Demikianlah maksud ayat di atas.
Al-Laits bin Sa’ad, seorang ulama besar pada zamannya dari negeri Mesir, mengatakan:
“Andai aku melihat ahlul bid’ah yang berjalan di atas air, maka aku tidak akan menganggapnya.”
Ketika Imam Syafi’i mengetahui ucapan al-Laits bin Sa’ad, beliau memberikan komentar:
“Sungguh benar apa yang beliau katakan, namun ucapan tersebut belumlah lengkap. Ucapan yang lengkap adalah: ‘Andai aku melihat ahlul bid’ah berjalan di atas air atau terbang di udara, maka aku tidak akan menganggapnya.’”
Dikisahkan dari seorang tokoh besar panteisme, al-Hallaj, bahwa ia pergi bersama murid-muridnya menuju tempat yang sangat jauh. Sebelumnya, al-Hallaj telah menyimpan berbagai jenis makanan dan buah-buahan di tempat tersebut.
Setelah sampai di tempat yang dituju, al-Hallaj meminta salah satu pengikutnya untuk mencari makanan di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya, orang tersebut dapat membawakan berbagai makanan yang diminta.
Semua itu dilakukan oleh al-Hallaj untuk meyakinkan para pengikutnya bahwa dirinya adalah wali Allah.
Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, ada seseorang yang mengaku sebagai nabi. Orang tersebut bernama al-Harits ad-Dimasyqi. Banyak orang yang tertarik dengan ajarannya kemudian menjadi pengikutnya.
Setiap kali ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara dalam keadaan kaki diborgol, setan datang dan melepaskan borgol dari kakinya.
Ketika orang ini dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi, eksekutor mengarahkan anak panah kepadanya. Anak panah yang dilepaskan jatuh sebelum mengenai tubuhnya.
Melihat kejadian ini, Khalifah Abdul Malik berkata kepada eksekutor, “Engkau tidak menyebut nama Allah. Maka sebutlah nama Allah.”
Ketika petugas menyebut nama Allah, anak panah yang dilepaskan dapat mengenainya sehingga al-Harits ad-Dimasyqi tewas karenanya.
Perbedaan Mukjizat dan Karamah
- Mukjizat diiringi dengan tantangan agar ditandingi serta pengakuan sebagai seorang nabi, sedangkan karamah tidak demikian.
- Mukjizat hanya dialami oleh para nabi. Sedangkan karamah bisa dialami oleh seorang hamba yang saleh, termasuk perempuan dan budak. Di antara contohnya adalah Maryam, Khadijah, dan Safinah maula Rasulullah ﷺ.
Perbedaan Karamah dan Ahwal Syaithaniyyah
- Perbedaan yang paling pokok adalah dengan memperhatikan sejarah hidup dan perilaku keseharian orang yang memiliki kemampuan luar biasa.
Jika orang tersebut adalah orang yang bertakwa dan saleh, menjaga diri agar tidak menzalimi orang lain, rajin menjalankan amal wajib dan sunnah, serta meninggalkan perkara syubhat dan haram—baik ketika sendirian maupun di hadapan banyak orang—maka kemampuan luar biasa yang dimilikinya dapat termasuk karamah.
Sebaliknya, jika perilakunya bertolak belakang dengan sifat-sifat tersebut, maka kemampuan luar biasa yang terjadi patut dicurigai sebagai ahwal syaithaniyyah.
- Karamah adalah semata-mata anugerah dan karunia Allah. Manusia sedikit pun tidak memiliki peran dan usaha untuk mendapatkannya.
Sedangkan ahwal syaithaniyyah tidak mungkin terjadi kecuali setelah melakukan berbagai perbuatan untuk memuaskan hawa nafsu, kekafiran, beribadah kepada selain Allah, dan melakukan berbagai amal tercela, seperti menghina mushaf dengan air seni sehingga setan akhirnya ridha kepada orang tersebut.
- Karamah tidak bisa dibatalkan atau dihalangi oleh sesuatu. Sedangkan ahwal syaithaniyyah dapat hilang dengan dibacakan Ayat Kursi atau ayat lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan adanya kejadian seperti ini lebih dari sekali. Ada orang yang sedang terbang di udara, lalu dibacakan Ayat Kursi sehingga orang tersebut jatuh ke bumi. Bacaan ini efektif apabila dibaca dengan hati yang penuh konsentrasi dan kekhusyukan.
- Karamah menambah iman, takwa, dan syukur kepada Allah. Sedangkan ahwal syaithaniyyah akan menyebabkan seseorang semakin kufur dan jauh dari Allah serta semakin dekat dengan setan.
Menjawab Kerancuan tentang Karamah
Ada sebagian orang yang menolak adanya karamah bagi para wali. Mereka berdalih dengan dua alasan yang berasal dari logika.
Pertama, karamah dianggap rancu dengan mukjizat para nabi. Jika kita percaya adanya karamah, maka kita tidak bisa membedakan antara mukjizat dan karamah.
Kedua, meyakini adanya karamah dianggap akan menimbulkan kerancuan dengan ahwal syaithaniyyah.
Jawaban untuk dalih yang pertama adalah dengan mengingat bahwa karamah hanya dialami oleh seorang yang saleh dan bertakwa, meninggalkan syubhat dan perkara haram. Orang seperti ini tidak mungkin terjerumus dalam kekafiran besar dengan mengaku sebagai nabi.
Adapun jawaban untuk dalih yang kedua adalah dengan memperhatikan perilaku keseharian dan perjalanan hidup orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Jika hal ini dilakukan, kita tidak akan rancu dalam membedakan karamah dengan ahwal syaithaniyyah.
Apakah Setan Mengetahui Perkara Gaib?
Di muka telah disebutkan bahwa para pengikut setan bisa memberikan informasi tentang beberapa perkara gaib. Boleh jadi pernyataan ini menimbulkan tanda tanya bagi sebagian orang, mengingat firman Allah:
“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.’”
(QS. An-Naml, ayat 65)
Jawabannya, gaib yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah gaib hakiki, bukan gaib nisbi.
Misalnya, jumlah tentara jelas diketahui oleh seorang panglima pasukan tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Inilah yang dimaksud dengan gaib nisbi, yaitu sesuatu yang gaib bagi sebagian orang tetapi tidak gaib bagi orang lain.
Adapun peristiwa yang akan terjadi satu jam lagi atau sehari lagi, maka hal tersebut termasuk perkara yang hanya diketahui oleh Allah sesuai dengan apa yang Dia kehendaki untuk diketahui makhluk-Nya.
Dalil yang menunjukkan bahwa pembahasan tersebut berkaitan dengan keterbatasan manusia dalam melihat jin dan setan adalah firman Allah:
“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sebagai wali bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(QS. Al-A’raf, ayat 27)
Wallahu a’lam.

Komentar