Home » Blog » Menandai Gejala Nifaq

Menandai Gejala Nifaq

فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah dan apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.”

(QS. At-Taubah, ayat 77)

Nifaq mengalir lembut dan tak terasa. Sifat ini acap kali menyusup secara diam-diam hingga tiba-tiba seseorang telah terjebak dalam dosa. Dahulu, para sahabat khawatir terjebak dalam jerat nifaq ini, padahal iman mereka tak diragukan.

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Diceritakan, Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka khawatir kalau-kalau ada nifaq di dalam dirinya. Tidak ada seorang pun yang berani mengatakan imannya seperti Jibril dan Mikail.” (HR. Bukhari, secara mu’allaq).

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Hudzaifah, aku memintamu agar engkau bersumpah, demi Allah: apakah Rasulullah ﷺ menyebut namaku termasuk orang-orang munafik?”

Hudzaifah menjawab, “Tidak. Tetapi selain engkau, aku tidak tahu.” (HR. Bukhari).

Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah! Sungguh sifat nifaq telah putus dari hati para pendahulu (sahabat) karena kejelian dan kehati-hatian mereka serta senantiasa curiga terhadap diri mereka sendiri (kalau-kalau ada nifaq di dalam hatinya).”

Hasan al-Bashri berkata, “Orang yang merasa aman dari kemunafikan adalah munafik, dan orang yang merasa takut dihinggapi kemunafikan itulah orang yang beriman.”

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

Mendeteksi Sifat Nifaq

Kunci kemenangan adalah tahu siapa lawan dan siapa kawan. Nifaq adalah perangkap yang menodai keimanan. Kinerjanya begitu halus dan rapi sehingga kita kadang tidak mengenali perangkap tersebut. Kita perlu mengenal nifaq agar tidak terjebak di dalamnya. Hal ini sebagai langkah pencegahan agar tidak berkembang menjadi penyakit yang akut dalam hati.

Al-Qur’an Al-Karim mengingatkan betapa besarnya bahaya nifaq dalam banyak ayat. Seperti kata bijak mengatakan, mengetahui keburukan bukan untuk dikerjakan, melainkan agar kita berhati-hati. Barang siapa tidak mengetahui keburukan, maka sangat mungkin ia akan terjerumus ke dalamnya.

Di antara sifat-sifat tersebut adalah:

Berdusta

Dusta merupakan titik awal munculnya sifat nifaq. Oleh karenanya, sikap dusta sangat dominan melekat pada diri orang munafik. Kedustaan terbesar adalah mengatakan keimanan, padahal hatinya ingkar, menolak apa pun yang Allah sampaikan, baik dalam Al-Qur’an maupun yang dituntunkan oleh Nabi ﷺ, bahkan menghina dan melecehkan hukum Allah ﷻ.

Munafik selalu identik dengan kedustaan yang senantiasa melekat pada mereka. Allah ﷻ berfirman, “Jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok (terhadap mereka).’” (QS. Al-Baqarah, ayat 14)

Nifaq Lebih Berbahaya daripada Kekufuran

Seorang muslim yang suka berdusta bisa jadi telah terkena virus kemunafikan. Oleh karenanya, ia diwajibkan segera mengobati penyakit ini dan menjauhinya. Seorang ulama terdahulu berkata, “Termasuk dosa terbesar adalah lisan yang banyak berdusta.”

Meremehkan Syariat Allah

Benar kata Nabi ﷺ bahwa dusta akan mengakibatkan dosa, dan orang yang membiasakan diri berdusta ditulis oleh Allah sebagai pendusta. Akhirnya, ia meremehkan syariat Allah. Ini berawal dari keraguan terhadap syariat, lalu meremehkan dan merendahkan syariat. Sehingga, ia beranggapan bahwa mengikuti syariat Allah tidak akan memberikan manfaat apa pun.

Allah ﷻ berfirman, “Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain (para sahabat Nabi) telah beriman.’ Mereka menjawab, ‘Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah, ayat 13)

Menyebarkan Keraguan tentang Islam

Keraguan terhadap syariat Allah yang melekat dalam dirinya itu terus ia sebarkan di tengah kaum muslimin, ditambah dengan cerita yang berlebihan mengenai keburukan syariat Allah. Bahkan, ia terus mencari celah agar manusia ragu dan bahkan antipati terhadap ajaran Islam, entah itu dakwahnya, berbagai kegiatannya, maupun amal baik yang lain.

Kisah Perang Ahzab dapat dijadikan referensi. Pada saat itu, Allah menggambarkan sikap orang-orang munafik yang menyebarkan keragu-raguan di tengah kaum muslimin dengan mengatakan bahwa Allah dan Rasul-Nya hanya memberikan janji bohong.

“Dan ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’” (QS. Al-Ahzab, ayat 12)

Memecah Belah Kaum Muslimin

Tujuan utama ia menyebarkan kedustaan atas nama Allah dan keraguan di kalangan kaum muslimin tiada lain adalah untuk memecah belah kaum muslimin. Usaha itu ia lakukan dengan berbagai cara dan strategi. Di antaranya adalah:

Pertama, menghalangi kaum muslimin untuk berinfak. Sebagaimana yang pernah mereka ucapkan kepada kaum Anshar ketika kaum Muhajirin hijrah di Madinah.

“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).’” (QS. Al-Munafiqun, ayat 7)

Kedua, memprovokasi kaum muslimin dengan berita dusta. Oleh karenanya, kaum muslimin harus senantiasa waspada terhadap setiap berita yang dibawa oleh orang-orang yang belum diketahui kejujurannya.

Dahulu, dengan berita dusta, keluarga Nabi ﷺ pernah mengalami fitnah yang sangat hebat. Yakni, ‘Aisyah dituduh serong dengan Sufyan bin Mu’aththal. Berita ini dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik Madinah).

Kemudian Allah menurunkan Surah An-Nur untuk membersihkan keluarga Nabi ﷺ, lalu menjelaskan kepada Nabi ﷺ bahwa yang menghembuskan fitnah adalah sekelompok manusia yang berada di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka ikut salat dan bergabung bersama barisannya. Artinya, ia menampakkan keislamannya, tetapi sangat membenci keimanan.

Riya

Riya juga merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Karena ia melakukan ibadah bukan karena Allah, melainkan hanya untuk manusia, bahkan sangat terpaksa, dengan tujuan untuk menutupi aibnya.

Allah ﷻ berfirman, “Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa, ayat 142)

Ibnu Katsir berkata, “Inilah gambaran orang munafik dalam melakukan amal yang paling utama, mulia lagi baik, yaitu salat. Jika mereka melakukannya, mereka lakukan dengan malas, sebab tidak disertai oleh niat, iman, takut (kepada Allah), dan mereka pun tidak memahami maknanya (salat). Mereka melakukan salat hanya untuk tujuan perlindungan diri dan kepura-puraan.”

Oleh karena itu, mereka banyak meninggalkan salat yang pelaksanaannya tidak terlihat oleh manusia, seperti salat Isya dan Subuh. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Salat yang paling berat bagi kaum munafik adalah Isya dan Subuh.”

Menipu dengan Penampilan

Di antara karakteristik sifat nifaq adalah menipu orang lain dengan penampilan, entah dengan ucapan atau perbuatan. Yakni, ucapannya sangat manis, penampilannya menarik dan meyakinkan, namun hatinya amat dengki terhadap kebaikan-kebaikan Islam dan kaum muslimin.

Hidupnya tergantung kepada orang lain, tidak mampu menunjukkan sikap dan jati diri, sehingga Allah menyifati mereka sebagai batang kayu yang tersandar. Ketika berada di tengah kaum muslimin, ia berlagak muslim, dan ketika berkumpul dengan orang kafir, ia menampakkan keasliannya.

Allah berfirman, “Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah, ayat 204)

Membuat Kerusakan di Muka Bumi

Dengan demikian, apa yang ia lakukan pada hakikatnya adalah menebarkan kerusakan dan permusuhan di muka bumi. Merusak iman, agama, moral, fisik, dan ketenteraman bermasyarakat. Ia tetap bersikukuh bahwa apa yang ia lakukan adalah untuk kemaslahatan umat, tetapi tidak demikian.

Allah berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah, ayat 11–12)

Yang dimaksud kerusakan dalam ayat tersebut ialah kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan. Kerusakan orang munafik yang paling mendasar adalah mendahulukan akal dan hawa nafsu daripada syariat Allah.

Mereka menyangka sedang memperbaiki atau meluruskan apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Mereka mengutak-atik ayat dan hadis beserta pemahamannya dengan alasan penyegaran dan pembaharuan, dan fenomena ini akan terus berkembang dari masa ke masa. Jadi, yang mereka maksudkan dengan ishlah (perbaikan) adalah segala yang mengikuti akal dan pendapat mereka, bukan syariat Islam.

Modal mereka adalah ucapan yang manis dan humanis, penampilan yang keren dan meyakinkan, sehingga dengan itu mereka mudah untuk mengelabui orang dan menyembunyikan kemunafikannya.

“Apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka, kamu menjadi kagum, jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataannya seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS. Al-Munafiqun, ayat 4)

Iman Mudah Goyah

Ini disebabkan ia beriman tanpa ilmu dan tanpa tujuan yang benar.

Al-Qur’an menyatakan, “Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj, ayat 11)

Jika pengakuan iman tanpa didasari dengan ilmu dan tujuan yang benar, tidak hanya goyah, tetapi ia berbalik kembali kepada kekafiran.

Ibnu Katsir berkata, “Dahulu ada seorang penduduk Madinah yang melakukan demikian: apabila istrinya melahirkan anak laki-laki dan kudanya juga beranak, maka dia berkata, ‘Ini adalah agama yang baik.’ Tetapi, apabila istrinya tidak melahirkan dan kudanya tidak beranak, dia berkata, ‘Ini adalah agama yang buruk.’”

Mujahid menafsirkan, “Berbaliklah ia ke belakang” dengan murtad kepada keadaan sebagai orang kafir.

Selalu Diliputi Ketakutan

Ketika kaum muslimin telah siap berangkat perang ke Tabuk, justru kaum munafik memohon kepada Nabi ﷺ agar diizinkan tidak ikut berperang dengan alasan mereka khawatir jika tergoda kepada gadis-gadis Romawi. Lalu turunlah ayat:

“Di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah, dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah, ayat 49)

Nifaq menyebabkan ketakutan yang sangat luar biasa terhadap ujian dan cobaan yang membentang di hadapannya, baik yang berhadapan langsung maupun tidak. Ia mendukung kaum muslimin jika mereka mendapatkan kemenangan, tetapi jika kaum muslimin mendapat ujian dan cobaan yang berat, ia lari dan bersembunyi.

Yang jelas, hidupnya selalu diliputi kecemasan dan kekhawatiran.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

04

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

05

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya