“Pernikahan merupakan peletakan batu pertama untuk sebuah bangunan keluarga yang menjadi modal utama dalam pembinaan masyarakat yang bermoral. Oleh karenanya, kebahagiaan yang ditopang dengan pembelajaran agama merupakan asas atas suksesnya tujuan itu.”
Keluarga yang saling menghargai dan menghormati hak serta kewajibannya akan melahirkan ketenangan atau sakinah, saling mencintai, saling mengasihi dan menyayangi, serta saling melindungi.
Ketika nilai-nilai tersebut tertanam dalam keluarga, insya Allah rumah tangga yang ideal dapat terwujud.
Jika sebuah keluarga dibangun di atas fondasi agama, akan tumbuh benih kehidupan rumah tangga yang dihiasi kejujuran, kebersamaan, keterbukaan, saling pengertian, saling melengkapi, saling percaya, dan saling membutuhkan. Dengan demikian, akan terbangun rasa cinta yang tulus, kemesraan, dan tanggung jawab di antara anggota keluarga.
Selain itu, satu hal yang perlu diperhatikan adalah keikhlasan dan ketulusan dari masing-masing suami dan istri dalam menjalani bahtera rumah tangga. Kedua hal tersebut merupakan pangkal amal dalam Islam.
Begitu pula, tujuan pernikahan bukan hanya sekadar pemenuhan kebutuhan biologis atau menaikkan status sosial.
Tolong-menolong dan saling membantu dalam beribadah kepada Allah merupakan salah satu tujuan dalam berkeluarga.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah, ayat 2)
Perhatikanlah ayat tersebut. Allah memerintahkan setiap hamba-Nya untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika seorang suami bangun pada malam hari, lalu membangunkan istrinya, kemudian keduanya melaksanakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Perilaku tersebut merupakan wujud nyata dari tolong-menolong dalam rangka ketaatan kepada Allah.
Dampak Positif Mengajarkan Agama kepada Keluarga
Ada beberapa dampak positif yang akan muncul jika seorang suami memiliki perhatian besar terhadap pembinaan agama dalam keluarganya.
1. Kesalehan Istri Semakin Baik
Jika hal ini terwujud, kebahagiaan yang diharapkan insya Allah dapat diraih. Istri yang salehah dapat membantu suaminya dan menjaga keluarga dari pengaruh-pengaruh buruk.
Selain itu, kesalehan seorang ibu merupakan kemuliaan bagi anak-anaknya. Ibu memiliki tugas yang mulia, yaitu merawat rumah beserta isinya, mendidik anak, dan menjaga berbagai amanah rumah tangga.
Karena itu, ibu sering diibaratkan sebagai madrasah bagi anak-anaknya. Sebagaimana dituturkan sebagian ahli syair:
“Ibu bagaikan sekolah. Apabila engkau mempersiapkannya, berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.”
Dengan demikian, kedua orang tua yang baik merupakan modal utama untuk membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera.
2. Iman Senantiasa Menghiasi Keluarga
Tiang penyangga utama rumah tangga adalah agama dan moral.
Rumah tangga muslim hendaknya bersih dari segala bentuk kesyirikan dan tradisi jahiliah serta semarak dengan aktivitas ibadah, seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.
Dengan demikian, rumah menjadi hidup dan sehat, baik secara jasmani maupun rohani.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah seperti orang hidup dan orang mati.”
Anggota keluarga yang dihiasi keimanan tentu akan memanfaatkan rumah sebagai sarana untuk memudahkan jalan menuju surga Allah.
Membiasakan diri berdoa, terutama ketika keluar dan masuk rumah, serta mengamalkan doa-doa lainnya merupakan bagian dari pembinaan agama dalam keluarga.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.”
3. Menjadi Teladan Moral di Tengah Masyarakat
Keharmonisan kehidupan sosial keluarga merupakan harapan setiap orang.
Namun, hal tersebut tidak akan tercapai jika prinsip-prinsip keluarga Islam tidak dijalankan oleh masing-masing anggotanya.
Keluarga muslim yang menjaga prinsip-prinsip keluarga dalam Islam akan menjadi teladan dan panutan bagi keluarga lainnya. Dengan demikian, dampak positif dan manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang.
4. Suami Mendapatkan Pahala yang Berlipat
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga orang yang mendapatkan dua pahala…”
Di antaranya:
“Seorang laki-laki yang memiliki hamba sahaya perempuan, lalu ia mendidiknya dengan baik, mengajarinya dengan baik, kemudian memerdekakannya lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.”
Pembinaan dan pengajaran agama merupakan amal yang memiliki nilai besar, terlebih ketika dilakukan kepada orang-orang yang berada dalam tanggung jawab seseorang.
Membuat Perpustakaan Buku-Buku Agama di Rumah
Di antara hal yang membantu proses pengajaran agama dalam keluarga adalah memberikan kesempatan belajar agama dan membantu anggota keluarga untuk menaati hukum-hukum syariat.
Salah satu caranya adalah membuat perpustakaan Islami di rumah.
Perpustakaan tersebut tidak harus besar. Yang terpenting adalah mampu memilih buku-buku yang penting dan bermanfaat, kemudian menempatkannya di tempat yang mudah dijangkau agar anggota keluarga mudah mengambil dan membacanya.
Perpustakaan hendaknya ditempatkan di tempat yang bersih dan tertib, baik di kamar tidur maupun ruang tamu, sehingga memberikan kesempatan kepada anggota keluarga untuk membaca secara teratur.
Perpustakaan yang baik hendaknya memuat sumber-sumber yang membahas dan memecahkan berbagai persoalan serta bermanfaat bagi anak-anak di sekolah.
Buku juga sebaiknya disediakan untuk berbagai tingkatan, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan.
Jika memungkinkan, dapat pula disediakan buku-buku khusus sebagai hadiah bagi tamu, teman anak-anak, dan pengunjung keluarga. Pilihlah buku dengan cetakan yang baik, telah diteliti dan diedit, serta hadits-haditsnya telah diperiksa dan diterangkan secara jelas.
Untuk membangun perpustakaan rumah, seseorang dapat memanfaatkan pameran buku setelah meminta pertimbangan kepada orang yang ahli dalam bidang perbukuan.
Buku-buku juga sebaiknya ditata berdasarkan bidangnya. Misalnya, buku tafsir ditempatkan pada rak tersendiri, demikian pula buku hadits, fikih, dan bidang lainnya.
Selain perpustakaan buku, keluarga juga dapat menyediakan rekaman kajian agama dalam berbagai media yang tersedia.
Mengundang Orang Saleh ke Rumah
Allah ﷻ berfirman:
“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman serta semua orang yang beriman, laki-laki dan perempuan. Janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”
(QS. Nuh, ayat 28)
Kehadiran orang-orang beriman dapat menambah cahaya di rumah seorang muslim. Di samping itu, mengadakan pembicaraan, bertanya, dan berdiskusi dengan mereka dapat mendatangkan banyak manfaat.
Ada ungkapan hikmah:
“Orang yang membawa kasturi mungkin akan memberikannya kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau minimal engkau akan mendapatkan darinya bau wangi yang semerbak.”
Dengan kedatangan orang-orang saleh, ayah, saudara, dan anak-anak dapat ikut menyambut mereka. Para wanita pun dapat mendengarkan pembicaraan mereka dari balik hijab. Hal tersebut menjadi pendidikan bagi seluruh anggota keluarga.
Jika kita memasukkan kebaikan ke dalam rumah, berarti kita telah berusaha mencegah masuknya keburukan ke dalam rumah.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’”
(QS. Al-Furqan, ayat 74)
Wallahu a’lam.

Komentar