Home » Blog » Cukup Kita Berdua yang Tahu

Cukup Kita Berdua yang Tahu

Pasangan suami istri hendaknya saling menjaga kehormatan dan menutupi kekurangan masing-masing. Seorang suami tidak pantas membeberkan aib istrinya kepada orang lain. Demikian pula seorang istri tidak pantas menyebarluaskan aib suaminya, terlebih jika berkaitan dengan kehidupan pribadi dan hubungan intim mereka.

Kehidupan rumah tangga memiliki rahasia yang seharusnya dijaga oleh kedua belah pihak. Menyebarkan rahasia tersebut tanpa kebutuhan yang dibenarkan bukanlah perilaku terpuji. Bahkan, dalam perkara yang tidak secara langsung dianggap sebagai aib oleh sebagian orang, menjaga rahasia tetap merupakan bagian dari adab dan akhlak yang mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan intim dengan istrinya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.”

Memilih Teman, Menjaga Akhlak

(HR. Abu Dawud)

Hadits tersebut menunjukkan larangan menyebarluaskan rahasia kehidupan suami istri, terutama hal-hal yang berkaitan dengan hubungan intim. Larangan ini juga mencakup kebiasaan menceritakan perilaku atau ucapan pasangan yang semestinya dijaga kerahasiaannya.

Menceritakan hubungan intim tanpa kebutuhan yang dibenarkan merupakan perbuatan yang bertentangan dengan adab dan akhlak yang baik. Sebab, tidak semua hal yang kita ketahui atau alami perlu diceritakan kepada orang lain.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Mengajarkan Agama kepada Keluarga: Jalan Menuju Rumah Tangga yang Bahagia

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita agar senantiasa mempertimbangkan manfaat dan akibat dari setiap perkataan. Apabila suatu cerita tidak membawa kebaikan dan justru membuka rahasia pasangan, diam merupakan sikap yang lebih baik.

Namun, apabila ada kebutuhan yang benar, seperti meminta nasihat untuk menyelesaikan persoalan rumah tangga atau mencari pertolongan ketika mengalami perlakuan yang membahayakan, persoalan tersebut berbeda dengan menyebarkan rahasia untuk mempermalukan pasangan. Rahasia rumah tangga tidak boleh dijadikan alasan untuk menghalangi seseorang memperoleh bantuan yang diperlukan.

Istri Juga Berkewajiban Menjaga Rahasia Suami

Kewajiban menjaga rahasia rumah tangga tidak hanya berlaku bagi suami. Seorang istri juga berkewajiban menjaga rahasia suaminya dan tidak menyebarluaskan sesuatu yang dipercayakan kepadanya.

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

Al-Qur’an mengisahkan peristiwa ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan suatu rahasia kepada salah seorang istrinya, kemudian rahasia tersebut diberitahukan kepada pihak lain. Allah ﷻ berfirman:

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَٰذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya suatu peristiwa. Ketika ia menceritakan peristiwa itu, dan Allah memberitahukan hal itu kepada Nabi, lalu Nabi memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Ketika Nabi memberitahukan pembicaraan itu kepadanya, ia bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahateliti.’”

(QS. At-Tahrim, ayat 3)

Ayat ini memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga rahasia yang telah dipercayakan kepada kita. Ketika suatu pembicaraan disampaikan secara rahasia, orang yang menerimanya hendaknya menjaga amanah tersebut dan tidak menyebarkannya tanpa alasan yang dibenarkan.

Selanjutnya, Allah ﷻ mengingatkan kedua istri Nabi ﷺ agar bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman:

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebenaran). Jika kamu berdua saling membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya, demikian pula Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh. Selain itu, para malaikat juga menjadi penolongnya.”

(QS. At-Tahrim, ayat 4)

Ayat ini menunjukkan beratnya kesalahan yang dilakukan dalam peristiwa tersebut dan pentingnya segera bertaubat ketika melakukan kekeliruan. Menjaga amanah, termasuk amanah berupa rahasia pasangan, merupakan bagian dari akhlak yang perlu dijaga dalam kehidupan rumah tangga.

Allah ﷻ kemudian berfirman:

عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika dia menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang muslim, beriman, taat, bertaubat, beribadah, berpuasa, baik yang janda maupun yang perawan.”

(QS. At-Tahrim, ayat 5)

Ayat tersebut merupakan peringatan keras agar kesalahan tidak terus dipertahankan. Setiap muslim hendaknya bersedia mengakui kekeliruannya, bertaubat kepada Allah ﷻ, dan memperbaiki perilakunya.

Jagalah Rahasia Rumah Tangga

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ kembali menjelaskan buruknya perilaku orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami istri. Dari Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan intim dengan istrinya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.”

(HR. Muslim dan Ahmad)

Dengan demikian, menjaga rahasia rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama. Suami dan istri hendaknya saling menjaga kehormatan, tidak menjadikan kekurangan pasangan sebagai bahan cerita, dan tidak mengumbar persoalan pribadi demi mendapatkan perhatian atau menjadi bahan pembicaraan orang lain.

Rumah tangga yang baik dibangun di atas kepercayaan, amanah, dan sikap saling menjaga. Apa yang dipercayakan pasangan kepada kita bukanlah sesuatu yang boleh disebarluaskan sesuka hati.

Karena itu, marilah kita menjaga lisan dan kehormatan pasangan. Jika terdapat persoalan yang perlu diselesaikan, carilah jalan keluar dengan cara yang bijaksana. Jika membutuhkan nasihat atau pertolongan, sampaikanlah kepada pihak yang tepat dengan sebatas informasi yang diperlukan.

Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk menjadi pasangan yang saling menjaga kehormatan, memelihara amanah, dan membangun rumah tangga yang diliputi kasih sayang serta ketakwaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

04

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

05

Rahasia Khusyuk dalam Shalat dan Pengaruhnya bagi Kehidupan

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya