Terlihat sebuah amalan yang sederhana, namun ternyata Nabi ﷺ begitu memperhatikan perkara ini. Itulah “bersiwak”, atau menggosok gigi dalam bahasa sekarang. Siwak sebenarnya adalah nama untuk kayu yang digunakan menggosok gigi. Tujuan dari bersiwak adalah untuk menghilangkan warna kuning pada gigi, bau yang tidak sedap pada mulut, dan membersihkannya.
Di dalamnya terdapat faidah-faidah yang banyak, di antaranya berupa kebersihan, kesehatan, wanginya mulut, mengikuti sunnah Nabi, dan juga yang terpenting adalah mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala.
Para ulama memasukkannya pada bab thaharah (bersuci) dikarenakan bersiwak termasuk sunnah wudhu. Yang artinya, apabila hal itu kita lakukan maka akan lebih menyempurnakan wudhu kita.
Yang mungkin tidak kita ketahui adalah ternyata beliau ﷺ amat memperhatikan amalan ini. Oleh karenanya kita dapatkan banyak hadits yang menceritakan amalan beliau yang satu ini.
Dari Hudzaifah bin Al Yaman—radhiyallahu ‘anhu—beliau mengatakan:
“Dari Hudzaifah bin Al Yaman beliau mengatakan: ‘Rasulullah ﷺ apabila bangun malam, beliau mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak.’”
(HR. Bukhari)
Karena kecintaan beliau terhadap kebersihan dan tidak sukanya beliau pada bau yang tidak sedap, oleh karenanya ketika beliau bangun dari tidur malamnya yang panjang—yang mana di situ dapat dipastikan berubahnya bau mulut menjadi tidak sedap—beliau bersiwak untuk menghilangkan bau tersebut.
Ketika bersiwak pun beliau melakukannya secara sungguh-sungguh, sebagaimana diceritakan oleh Abu Musa Al Asy’ari—semoga Allah meridhai beliau—beliau menceritakan:
“Aku mendatangi Nabi ﷺ dan dia sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada lidahnya dan dia sambil berkata ‘Uh-uh’. Dan siwak berada pada mulutnya seakan-akan beliau muntah.”
(HR. Bukhari, Muslim)
Oleh karenanya hadits ini dapat kita jadikan dalil disyariatkannya bersiwak dengan sungguh-sungguh atau berlebih-lebihan, kecuali pada saat berpuasa.
Jika saja bersiwak tidak membebani umat ini, niscaya beliau mewajibkannya atas kita. Beliau bersabda:
“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.”
(HR. Bukhari, Muslim)
Beliau senantiasa bersiwak sepanjang hayat, bahkan hal itu pun dilakukan menjelang akhir hayat beliau. Hal itu kita dapatkan sebagaimana pada hadits berikut:
“Dari ‘Aisyah berkata: ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Siddiq menemui Nabi ﷺ dan Nabi ﷺ bersandar di dadaku. Abdurrahman membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak. Dan Rasulullah ﷺ memandang siwak tersebut. Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan mematahkannya, lalu aku membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada Rasulullah, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah pernah aku melihat Rasulullah bersiwak yang lebih baik dari itu. Dan setelah Rasulullah selesai dari bersiwak, dia pun mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata: “Fii ar Rafiqil A’la.” Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.’”
Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata: “Aku melihat Rasulullah memandang siwak tersebut, maka akupun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata: ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?’ Maka Rasulullah mengisyaratkan dengan kepalanya yaitu tanda setuju.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kita dapatkan beberapa faidah dari uraian kita di atas:
- Kecintaan Nabi ﷺ terhadap siwak. Hal ini ditunjukkan sebagaimana hadits ‘Aisyah di atas.
- Bersiwak termasuk sunnahnya wudhu. [Lihat Taisirrul ‘Allam Syarh ‘Umdatil Ahkam, hlm. 35, Darul Kutub Al Ilmiyah Beirut]
- Hukumnya adalah sunnah muakkadah, yang hampir sampai pada derajat wajib. Imam Nawawi mengatakan: “Telah sepakat orang-orang yang menganggap penting hal ini (siwak) bahwasannya bersiwak merupakan sunnah muakkadah, dan bukan wajib, kecuali apa yang diceritakan dari Dawud Adz-Dzahiri bahwasannya ia mewajibkannya ketika shalat.”
- Disunnahkan melakukannya secara berlebih-lebihan, kecuali pada saat berpuasa.
- Bersiwak memiliki faidah yang banyak dari sisi kebersihan yang akan berdampak pada kesehatan. Di antaranya menjaga kesegaran mulut yang merupakan pintu gerbang bagi perut. Maka apabila mulut itu bersih, berarti pula perut itu bersih.
- Mendatangkan keridhaan Allah Ta’ala. Diriwayatkan dari Imam Tirmidzi dengan sanad hasan dan Imam Bukhari memberikan komentar di dalam Shahih-nya, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersiwak itu dapat mensucikan mulut dan dapat mendatangkan keridhaan Allah.”
- Termasuk sunnah fitrah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad hasan:
“Empat hal yang termasuk sunnahnya para Rasul: khitan, memakai wangi-wangian, bersiwak, dan menikah.”
Meskipun sanad hadits ini banyak yang dhaif, akan tetapi hadits ini memiliki banyak syawahid (penguat), yang menjadikannya naik pada derajat hasan lighairihi.
Wallahu a’lam.


Komentar