Home » Blog » Sebab-sebab Bahagia

Sebab-sebab Bahagia

Bahagia adalah harapan setiap orang. Bahagia tidak muncul dengan sendirinya. Kehadirannya dapat dicapai dengan berbagai faktor dan sebab. Berikut ini adalah sebab-sebab untuk meraih kebahagiaan.

1. Iman dan Tauhid

Semakin sempurna iman dan tauhid seseorang, maka semakin sempurna kebahagiaan yang akan dia rasakan.

Allah ﷻ berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun, ayat 11).

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

2. Menyucikan Jiwa

Barang siapa yang berupaya sungguh-sungguh menyucikan jiwanya sehingga mencapai derajat ihsan yang lebih tinggi dari derajat iman dan takwa, maka sungguh dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Namun, jiwa hanya akan suci dengan tauhid, melaksanakan berbagai kewajiban, meninggalkan hal-hal yang haram, dan rajin melaksanakan hal-hal yang sunnah, bukan dengan khurafat, kesyirikan, dan kebid’ahan.

3. Salat

Salat merupakan faktor terpenting yang akan mewujudkan kebahagiaan. Oleh karena itu, salat merupakan penyejuk hati Nabi ﷺ.

Dalam salat terdapat munajat dengan Sang Pencipta, merasakan nikmat dengan mengingat dan mendekat kepada-Nya, terutama dalam posisi sujud. Saat itulah seorang hamba berada dalam posisi yang paling dekat dengan Rabb-nya.

Oleh karena itu, Nabi ﷺ berkata kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu:

Menandai Gejala Nifaq

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Bangunlah wahai Bilal, lalu istirahatkanlah kami dengan salat.”

(HR. Abu Dawud no. 4986 dan Ahmad).

Oleh karena itu, sepantasnya seorang mukmin meneladani Rasulullah ﷺ dalam hal ini, yaitu memiliki prinsip “segarkan kami dengan salat”, bukan “segarkanlah kami dari beban salat.”

4. Qanaah dan Ridha dengan Ketentuan Allah

Merasa puas dengan karunia Allah atau qanaah merupakan sebab timbulnya ketenangan jiwa yang merupakan kunci kebahagiaan.

Nifaq Lebih Berbahaya daripada Kekufuran

Jika seorang mukmin mendapatkan cobaan berupa sakit atau kemiskinan, maka dia akan merasa ridha dengan ketentuan Allah. Hatinya tidak menuntut perkara yang tidak Allah takdirkan untuknya.

Bahkan, dia akan memandang orang yang jauh lebih susah, bukan memandang orang yang jauh lebih sukses.

Seorang mukmin merasa ridha dengan ketentuan Rabb-nya. Dia merasa yakin bahwa pilihan Allah untuknya lebih baik daripada pilihannya sendiri untuk dirinya.

Di samping itu, seorang mukmin yakin bahwa kasih sayang Allah lebih besar daripada kasih sayang bapak dan ibunya terhadap dirinya sendiri. Karena itu, seorang mukmin selalu berada dalam kebahagiaan dan merasakan penuh kenikmatan.

5. Banyak Mengingat Allah

Berdzikir atau mengingat Allah merupakan sebab penting ketenangan jiwa. Dzikir memiliki pengaruh yang menakjubkan untuk menghilangkan kesusahan dan kesedihan.

6. Ilmu yang Bermanfaat

Dengan ilmu, dada seseorang akan terasa lapang, bahkan lebih lapang daripada dunia. Sebaliknya, kebodohan akan menimbulkan kesempitan dan keterkungkungan.

7. Berbuat Baik kepada Sesama

Berbuat baik kepada sesama manusia bisa dilakukan dengan harta, pangkat, maupun tenaga.

Sesungguhnya orang yang dermawan dan suka menolong adalah manusia yang paling lapang dadanya dan paling ceria hatinya.

8. Tidak Berlebih-lebihan dalam Enam Hal

Enam hal tersebut adalah memandang, berbicara, mendengar, bergaul, makan, dan tidur.

Berlebih-lebihan dalam enam hal ini hanya akan merusak hati sehingga menyebabkan timbulnya kesusahan, rasa sempit, dan ketersiksaan.

Oleh karena itu, hati tidak akan bahagia kecuali dengan meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam enam hal tersebut.

9. Rasa Cinta kepada Allah

Tidak ada yang lebih melapangkan dada daripada rasa cinta dan menghadapkan diri kepada Allah serta merasa nikmat dengan beribadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, di antara penyebab sempitnya dada adalah berpalingnya hati dari Allah, lalai untuk mengingat-Nya, ketergantungan hati kepada selain-Nya, dan rasa cinta kepada selain-Nya.

10. Tobat dan Istighfar

Tobat dan istighfar merupakan sebab penting untuk mendapatkan ketenangan hati. Seorang hamba yang menyadari kesalahannya, kemudian kembali kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya, akan mendapatkan ketenangan dengan kembali kepada Rabb-nya.

11. Bersyukur ketika Mendapat Nikmat

Ketika mendapatkan nikmat, seorang mukmin hendaknya bersyukur kepada Allah. Syukur akan membuat hati menyadari bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Allah sehingga tidak menjadikan seseorang lalai atau sombong.

12. Bersabar saat Mendapatkan Bencana

Ketika mendapatkan musibah, seorang mukmin hendaknya bersabar dan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan ketentuan Allah.

Allah ﷻ berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun, ayat 11).

13. Doa dan Membaca Al-Qur’an

Ketika berdoa dan membaca Al-Qur’an, setiap orang pasti merasakan ketenangan dan ketenteraman yang hanya bisa dirasakan pada saat-saat seperti ini.

14. Hati yang Tegar

Ketika hati hanya bersandar dan bertawakal kepada Allah, tidak dikuasai oleh imajinasi yang buruk, yakin kepada Allah, dan sangat berharap kepada karunia-Nya, maka berbagai kegelisahan dan kegalauan akan hilang.

Bahkan, banyak penyakit hati dan badan akan hilang karena hal ini.

15. Bersahabat dengan Orang-orang Saleh

Menjadi tabiat jiwa untuk mengikuti sifat orang yang dekat dengannya.

Oleh karena itu, jika kita bergaul dengan orang-orang yang merasakan kebahagiaan hakiki, kita tentu akan terpengaruh oleh mereka lalu mengikuti jejak langkah mereka.

Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang yang berada dalam kesengsaraan yang hakiki akan menyebabkan kita menjadi orang yang sengsara pula.

16. Optimis Memandang Hidup

Putus asa merupakan sumber kesedihan, keresahan, dan keguncangan batin.

Oleh karena itu, Nabi ﷺ menyukai ucapan yang menimbulkan optimisme dan membenci perasaan sial terhadap sesuatu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ الْحَسَنُ، وَيَكْرَهُ الطِّيَرَةَ

“Nabi ﷺ menyukai optimisme yang baik dan membenci thiyarah (anggapan sial).”

(HR. Ibnu Majah no. 3536 dan Ahmad no. 8393; dishahihkan oleh al-Albani).

17. Umur Panjang Diisi dengan Amal Saleh

Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

“Siapakah manusia yang terbaik?”

Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Orang yang umurnya panjang dan amalnya baik.”

(HR. at-Tirmidzi no. 2329 dan Ahmad).

Dalam riwayat lain disebutkan tentang manusia yang paling buruk, yaitu orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.

Dengan demikian, panjang umur menjadi nikmat apabila diisi dengan amal saleh.

18. Berbakti kepada Orang Tua dan Bersilaturahmi

Seseorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjaga hubungan kekerabatan pasti akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan.

Di sisi lain, orang yang durhaka dan memutus tali kekerabatan akan selalu dihantui perasaan berdosa, resah, dan gelisah.

19. Penghasilan yang Halal

Ketika seseorang menyadari bahwa apa yang dimakannya adalah harta yang halal, maka hatinya akan merasakan ketenangan.

Sebaliknya, jika makanan, minuman, dan pakaian itu berasal dari sumber yang haram, maka hatinya tidak akan pernah tenang.

20. Istri, Tetangga, Kendaraan, dan Tempat Tinggal

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةٌ، وَمِنْ شَقْوَةِ ابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةٌ: مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ، وَمِنْ شَقْوَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ

“Di antara kebahagiaan anak Adam ada tiga: wanita yang salehah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Dan di antara kesengsaraan anak Adam ada tiga: wanita yang buruk, tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk.”

(HR. Ahmad no. 1445; diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dengan redaksi yang menyebutkan empat hal, yaitu istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang menyenangkan).

Sebenarnya masih terdapat banyak sebab lain yang akan mendatangkan kebahagiaan. Sebab, semua hal yang diperintahkan oleh syariat merupakan sebab kebahagiaan, dan semua yang dilarang oleh syariat merupakan sebab kesengsaraan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

04

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

05

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya