Home » Blog » Diantara Sebab Kemenangan

Diantara Sebab Kemenangan

Pada waktu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menaklukkan Persia, beliau menulis pesan yang isinya sebagai berikut:

1. Takwa kepada Allah

Aku perintahkan kepadamu dan semua tentara yang ikut bersamamu untuk bertakwa kepada Allah dalam keadaan bagaimana pun juga, sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan musuh serta siasat perang yang paling hebat.

2. Meninggalkan Segala Bentuk Perbuatan Maksiat

Aku perintahkan pula kepadamu dan orang-orang yang ikut bersamamu agar menjaga diri dari perbuatan maksiat lebih cermat daripada menjaga serangan musuh, karena dosa-dosa para tentara itu lebih menakutkan mereka sendiri daripada musuhnya.

Kemenangan kaum Muslimin itu akibat perbuatan maksiat musuhnya. Andaikata mereka tidak berbuat maksiat, pasti orang-orang Islam tidak mempunyai kekuatan, sebab jumlah, kekuatan, serta perbekalan mereka tidak sebanyak dan sekuat musuh mereka. Andaikata mereka sama-sama berbuat maksiat, pasti musuh Islam lebih kuat. Seandainya kita tidak diberikan kekuatan dengan takwa dan meninggalkan maksiat, pasti kita tidak dapat mengalahkan mereka.

Ketahuilah bahwasanya sewaktu kamu berangkat ke Persia, setiap dirimu diawasi oleh malaikat yang mengetahui segala perbuatanmu. Hendaknya kamu malu kepada mereka. Janganlah berbuat maksiat di tengah-tengah kamu berjuang menegakkan agama Allah. Begitu pula jangan beranggapan bahwa musuh kita lebih jelek daripada kita sehingga tidak mungkin mereka menguasai kita walaupun kita berbuat jelek.

Patung dan Jalan Menuju Kemusyrikan

Karena banyak manusia yang dipimpin oleh orang yang lebih jelek daripada mereka, seperti Bani Israil. Karena perbuatan maksiat mereka, akhirnya mereka dipimpin oleh orang kafir Majusi.

3. Mohon Pertolongan kepada Allah

Memohonlah kamu kepada Allah untuk kemenangan dan keselamatanmu dari godaan maksiat, sebagaimana kamu memohon kemenangan dari musuhmu. Berdoalah kepada Allah, baik untuk kita maupun untuk kamu sendiri.

PERTOLONGAN ALLAH KEPADA UMAT ISLAM

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ فَجَآءُوهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا ۖ وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus sebelum engkau beberapa orang rasul kepada kaumnya. Mereka datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Kemudian Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan merupakan kewajiban Kami menolong orang-orang yang beriman.”
(QS. Ar-Rum, ayat 47)

Menguatkan Jiwa Dengan Tawakkal

Ayat Al-Qur’an ini menjelaskan bahwa Allah menjanjikan pertolongan bagi orang-orang beriman atas musuh-musuhnya. Ini adalah janji yang tidak mungkin diingkari.

Allah telah menolong Rasul-Nya dalam peperangan Badar, Ahzab, dan peperangan lainnya yang beliau lakukan. Demikian juga Allah menolong para sahabat Rasulullah ﷺ sepeninggal beliau dalam menghadapi musuh-musuhnya. Karena itu, Islam tersebar luas di banyak penjuru dunia. Islam mencapai kemenangan meskipun melalui banyak tragedi dan musibah.

Kesudahan yang baik memang pada akhirnya milik orang-orang yang benar-benar percaya kepada Allah, yaitu mereka yang beriman kepada-Nya, mengesakan-Nya dalam beribadah dan berdoa, baik dalam masa kesempitan maupun kelapangan.

Renungkanlah bagaimana Al-Qur’an mengisahkan keadaan orang-orang beriman ketika terjadi Perang Badar. Jumlah mereka relatif sedikit, demikian pula perbekalan yang mereka bawa. Dalam kondisi seperti itu, mereka kemudian berdoa kepada Allah ﷻ.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hakikat Dan Makna Tawakkal

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’”
(QS. Al-Anfal, ayat 9)

Allah mengabulkan doa mereka dan menurunkan bala bantuan malaikat yang berperang bersama-sama mereka. Para malaikat memenggal kepala orang-orang kafir dan memancung ujung-ujung jari mereka. Allah ﷻ berfirman:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu. Maka teguhkanlah orang-orang yang telah beriman. Kelak Aku akan menimpakan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.’”
(QS. Al-Anfal, ayat 12)

Akhirnya, tercapailah kemenangan di tangan orang-orang beriman yang mengesakan Allah. Allah berfirman:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.”
(QS. Ali Imran, ayat 123)

Di antara doa Rasulullah ﷺ ketika Perang Badar adalah:

“Ya Allah, seandainya Engkau hancurkan kelompok dan orang-orang Islam ini, niscaya Engkau tidak disembah di bumi.”
(HR. Muslim)

Pada saat ini, di banyak negara, kita menyaksikan umat Islam melakukan peperangan dengan musuh-musuhnya. Namun, mereka tidak mendapatkan kemenangan. Lalu, apa gerangan sebabnya? Apakah Allah mengingkari janji-Nya kepada orang-orang beriman?

Tidak, sama sekali tidak! Allah tidak mengingkari janji-Nya. Tetapi yang perlu kita tanyakan kemudian adalah: di manakah orang-orang beriman sehingga datang kepada mereka kemenangan sebagaimana yang dijanjikan oleh ayat Allah ﷻ di atas?

Marilah kita bertanya kepada para mujahidin:

Apakah mereka mempersiapkan diri dengan iman dan tauhid yang dengan keduanya Rasulullah ﷺ memulai dakwahnya di Makkah sebelum beliau melakukan peperangan?

Apakah mereka melakukan ikhtiar sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللّٰهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.”
(QS. Al-Anfal, ayat 60)

Rasulullah ﷺ menafsirkan ayat di atas dengan persiapan berupa kemampuan melempar.

Apakah mereka berdoa kepada Allah dan dalam berdoa, saat berkecamuk perang, hanya memohon pertolongan kepada-Nya? Ataukah sebaliknya, mereka menyekutukan-Nya dengan yang lain sehingga meminta pertolongan dari selain-Nya yang mereka percayai memiliki kekuasaan? Padahal mereka adalah hamba Allah yang tidak memiliki manfaat dan mudarat untuk dirinya sendiri.

Lalu, mengapa mereka tidak meneladani Rasulullah ﷺ dalam berdoa yang hanya ditujukan kepada Allah semata? Bukankah Allah telah berfirman:

أَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِن دُونِهِ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya?”
(QS. Az-Zumar, ayat 36)

Apakah mereka bersatu, saling mengasihi, dan menyayangi satu sama lain sehingga semboyan dan syiar mereka adalah firman Allah:

وَأَطِيعُوا اللّٰهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Anfal, ayat 46)

Yang terakhir, ketika umat Islam meninggalkan akidah dan perintah-perintah agama mereka, maka mereka menjadi umat yang terbelakang. Sebaliknya, jika mereka kembali lagi kepada agama mereka, niscaya akan kembali pula kemajuan dan kemuliaan mereka, sebab pada hakikatnya Islam mewajibkan umat untuk maju di bidang ilmu dan kebudayaan.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ فَجَآءُوهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا ۖ وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus sebelum engkau beberapa orang rasul kepada kaumnya. Mereka datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Kemudian Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan merupakan kewajiban Kami menolong orang-orang yang beriman.”
(QS. Ar-Rum, ayat 47)

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

04

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

05

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya