Home » Blog » Hakikat Dan Makna Tawakkal

Hakikat Dan Makna Tawakkal

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”

(QS. At-Talaq, ayat 3)

Kebutuhan seorang muslim untuk bertawakkal kepada Allah di atas jalan-Nya merupakan kebutuhan yang sangat penting, khususnya dalam urusan rezeki. Urusan rezeki telah menyibukkan pikiran dan hati banyak orang. Bukan hanya itu, masalah rezeki juga membuat badan mereka kelelahan dan hati diliputi kegelisahan. Bahkan, membuat mereka susah tidur atau bahkan tidak tidur karena bekerja siang dan malam.

Terkadang, masalah rezeki ini menggiring manusia ke lembah kehinaan, menundukkan kepala dan mengorbankan kehormatan, hanya sekadar mencari kehidupan. Ia beranggapan bahwa rezeki itu dikendalikan oleh manusia seperti dirinya. Jika ia mampu memberi rezeki kepada orang lain, maka ia menganggap orang lain juga mampu memberi rezeki kepadanya. Sehingga kehidupan dirinya berada dalam genggaman orang lain, atau dia menindas yang lain karena merasa dialah yang memberi rezeki kepadanya.

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

Terkadang, hal yang terjadi lebih parah dari itu. Ia membiarkan dirinya makan dari hasil yang haram: uang sogokan, menghalalkan riba, dan memakan harta dengan cara yang tidak benar. Itu dilakukan karena rasa takut saat tiba masa tua, saat ia sakit, atau saat ia menganggur tanpa ada pekerjaan. Atau jika kelak ia meninggal, anak-anaknya dalam kondisi lemah ekonominya.

Solusi dari itu semua adalah bertawakkal kepada Allah ﷻ.

PENGERTIAN TAWAKKAL

Imam al-Manawi berkata, “Tawakkal menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali.”

Ibnu Katsir berkata, “Yakni mereka tidak mengharapkan selain Dia, tidak menuju kecuali kepada Dia, tidak berlindung kecuali kepada sisi-Nya, tidak meminta kebutuhan kecuali kepada-Nya, dan tidak bersandar kecuali kepada-Nya. Mereka mengetahui apa yang mereka kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi. Bahwa Dialah Allah Yang Maha Esa dalam mengelola kerajaan, tiada sekutu bagi-Nya, tiada yang menolak ketetapan-Nya, dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya.”

Ali al-Qari berkata, “Hendaknya kalian ketahui secara yakin tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rezeki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati, dan segala hal yang disebut sesuatu yang maujud, semuanya itu adalah dari Allah.”

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, dinyatakan:

“Tawakkal merupakan ungkapan tentang penyandaran hati kepada yang diwakilkan. Manusia tidak dapat disebut tawakkal kepada selain-Nya kecuali ia telah bersandar kepadanya dalam beberapa hal, yaitu dalam masalah simpati, kekuatan, dan petunjuk. Jika engkau sudah mengetahui hal ini, maka bandingkanlah dengan tawakkal kepada Allah. Jika hatimu sudah merasa mantap bahwa tidak ada yang bisa berbuat selain Allah semata, jika engkau sudah yakin bahwa ilmu, kekuasaan, dan rahmat-Nya sempurna, di belakang kekuasaan-Nya tidak ada kekuasaan yang lain, di belakang rahmat-Nya tidak ada ilmu lain, di belakang ilmu-Nya tidak ada ilmu lain, berarti hatimu sudah bertawakkal kepada-Nya semata dan tidak menengok kepada selain-Nya.”

Jika engkau tidak mendapatkan keadaan seperti itu di dalam dirimu, maka ada satu di antara dua sebab: entah lemahnya iman terhadap hal-hal seperti ini, atau ketakutan hati yang disebabkan kegelisahan dan kebimbangan yang menguasainya. Hati menjadi gelisah tak menentu karena adanya kebimbangan, sekalipun masih ada keyakinan. Siapa yang menerima madu lalu ia membayangkan yang tidak-tidak tentang madu itu, tentu ia akan menolak madu itu.

Jika seseorang dipaksa tidur di samping mayat di liang kuburan, tempat tidur, atau di dalam rumah, tabiat dirinya tentu akan menolak, sekalipun ia yakin mayat itu adalah sesuatu yang tidak dapat bergerak atau mati. Namun, tabiatnya tidak membuatnya lari dari benda-benda mati lainnya. Yang demikian ini karena adanya ketakutan di dalam hati.

Ini termasuk jenis kelemahan dan jarang orang yang terbebas darinya. Bahkan terkadang ketakutan berlebih-lebihan sehingga menimbulkan penyakit, seperti takut dalam rumah sendirian, sekalipun semua pintu sudah tertutup rapat.

Patung dan Jalan Menuju Kemusyrikan

Jadi, tawakkal tidak menjadi sempurna kecuali dengan disertai keteguhan keyakinan secara menyeluruh.

Dalam buku al-Ibadah Qalbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’min disebutkan, “Bahwa hakikat tawakkal adalah menyandarkan hati kepada Allah untuk mendapat kebaikan dan menolak kejelekan, baik dalam urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya dan mengimplementasikan keimanannya bahwa tidak ada yang memberi, menolak, menimpakan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali hanya Allah.”

Ada juga yang berpandangan bahwa tawakkal adalah pengetahuan hati terhadap Allah, bahwa Allah akan mencukupkannya. Menyerahkan segala urusan kepada yang berhak mengatur urusan itu, menjauhkan hati dari sikap menentang kepada penguasanya, menyandarkan diri kepada-Nya dalam segala urusan, serta mengubah keyakinan bahwa yang mengatur urusan itu adalah daya dan kekuatan dirinya sendiri menjadi keyakinan bahwa yang mengatur dan mengadakan segala urusan adalah Allah, bukan yang lain-Nya.

Ibnu Rajab al-Hambali menyatakan makna tawakkal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah di dalam mendapatkan kebaikan dan menolak perkara bahaya di dunia maupun di akhirat.

Dengan tawakkal, seluruh perkara diserahkan kepada-Nya. Ini merupakan pembuktian iman bahwa tidak ada yang memberi, tidak ada yang mencegah, tidak ada yang memberikan bahaya, dan tidak ada yang memberikan manfaat kecuali hanya Allah.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa yakin adalah teman tawakkal. Karena itulah, ada yang menafsirkan tawakkal sebagai kuatnya keyakinan, sedangkan yang benar adalah bahwa tawakkal adalah buah dari keyakinan dan hasilnya.

Ibnu Shalih al-Utsaimin menyatakan, “Tawakkal adalah kepercayaan hati manusia kepada Allah ﷻ dengan benar, baik lahir maupun batin untuk menghasilkan manfaat dan menolak bahaya, serta melakukan sebab-sebab yang diperintahkan oleh Allah ﷻ untuk melaksanakannya.”

KEDUDUKAN TAWAKKAL

Sa’id bin Jubair berkata, “Tawakkal adalah inti dari iman.”

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Tawakkal adalah separuh agama dan separuh yang kedua adalah inabah (kembali kepada Allah). Sesungguhnya agama itu sendiri terdiri dari isti’anah (meminta pertolongan) dan ibadah. Tawakkal adalah meminta pertolongan, sedangkan inabah (kembali kepada Allah) itulah ibadah. Bahkan tawakkal adalah ibadah yang sejati dan tauhid yang murni. Demikian itu jika orang memiliki dua sifat tersebut dengan penuh kesungguhan.”

Syekh Shalih al-Munajid berkata, “Tawakkal mempunyai kedudukan yang tinggi (dalam agama) dan dampak positifnya terhadap kehidupan seorang muslim sangat besar. Bahkan ia adalah bentuk ibadah dan iman kepada Allah dan amaliah hati yang paling tinggi yang dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah yang bersifat Rahman. Begitu pula, tawakkal merupakan tingkatan tauhid paling tinggi, karena segala sesuatu tidak akan berhasil tanpa adanya tawakkal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya.”

TINGKATAN TAWAKKAL

Tawakkal memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan orang yang bertawakkal, kekuatan iman, tekad, dan semangat pelakunya.

Pertama, mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya.

Yakin dengan mengetahui bahwa Allah adalah Dzat Yang Mahakuasa, Dzat Yang Maha Mencukupkan kebutuhan makhluk-Nya, dan Dzat Yang Mahaberdiri sendiri. Segala urusan bergantung pada ilmu-Nya dan semua terjadi karena kehendak-Nya dan kekuasaan-Nya. Ini adalah tangga awal yang harus diikuti orang yang bertawakkal.

Kedua, menetapkan sebab dan akibat.

Maksudnya, segala sesuatu yang diserahkan oleh Allah untuk umat manusia di dunia ini dapat digunakan untuk mempermudah urusan kehidupan mereka.

Ketiga, menanamkan tawakkal hanya kepada Allah semata ke dalam lubuk hati yang paling dalam.

Keempat, menyandarkan hati, menampakkan rasa pasrah dan kecenderungan kepada Allah semata.

Tanda orang yang telah mencapai tingkat ini adalah ia tak peduli tatkala dunia hadir dalam kehidupannya atau meninggalkannya. Hatinya tidak goncang ketika tidak mendapatkan apa yang disukainya, dan ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Hal ini disebabkan karena hatinya yang bersandar, berkecenderungan, dan pasrah kepada Allah. Karena Allah telah menjaganya dari rasa takut dan berharap atas dunia.

Kelima, berbaik sangka kepada Allah.

Maka tingkatnya berbanding lurus dengan baik sangkanya kepada Allah.

Keenam, hati berserah diri kepada Allah.

Segala motivasi hati hanya tertuju kepada-Nya dan tidak menyimpang dari-Nya. Jika seseorang bertawakkal seperti ini, maka ia akan menyadari bahwa ia tidak akan memiliki sesuatu sebelum berusaha semampunya dan tidak akan merasa aman dari makar Allah.

Ketujuh, menyerahkan segala urusan kepada Allah.

Ini adalah ruh dan hakikat tawakkal. Maknanya adalah menyerahkan dan memasrahkan segala urusan kepada Allah dengan kemauan sendiri tanpa ada paksaan. Bagi orang yang telah pasrah, ia tidak akan menyerahkan urusannya kepada Allah kecuali dengan maksud agar Allah memutuskan sesuatu yang lebih baik bagi dirinya dalam hidup dan matinya.

Kalau ketetapan Allah itu ternyata berbeda dengan yang diharapkannya, maka ia tetap ridha kepada-Nya. Hal ini dikarenakan dirinya tahu bahwa ketetapan itu lebih baik baginya walaupun sisi positifnya belum diketahui.

Sebagaimana yang telah difirmankan Allah ﷻ:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah, ayat 216)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

04

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

05

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya