“Dan bertawakallah kepada Zat Yang Maha Hidup, yang tidak mati.”
(QS. Al-Furqan, ayat 58)
Tawakkal yang Menguatkan Jiwa
Dalam sebuah perjalanan pulang dari Perang Dzaturriqa’ ke arah Najd, Jabir radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi ﷺ, menceritakan bahwa pasukan terpaksa beristirahat di tengah hutan yang dipenuhi pepohonan berduri. Para sahabat kemudian berpencar mencari tempat untuk berteduh.
Nabi ﷺ berteduh di bawah sebuah pohon dan menggantungkan pedangnya di atas pohon tersebut. Ketika para sahabat sedang terlelap, tiba-tiba Rasulullah ﷺ memanggil mereka. Saat itu, mereka melihat di samping Nabi ﷺ ada seorang badui.
Nabi ﷺ kemudian menerangkan bahwa ketika beliau sedang tidur, orang tersebut mengambil pedangnya dan menghunuskannya. Rasulullah ﷺ pun terbangun dan melihat pedang itu telah terhunus di tangannya.
Orang tersebut kemudian berkata,
“Siapakah yang dapat membelamu dari seranganku?”
Rasulullah ﷺ menjawab,
“Allah, Allah, Allah.”
Kemudian Nabi ﷺ duduk dan tidak membalas orang tersebut. (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pedang itu kemudian jatuh dari tangan orang tersebut dan diambil oleh Nabi ﷺ. Beliau lalu bertanya,
“Siapakah yang dapat membelamu dariku?”
Orang tersebut menjawab,
“Jadilah engkau sebaik-baik orang yang membalas budi.”
Lalu Nabi ﷺ bersabda,
“Maukah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah?”
Ia menjawab,
“Tidak. Namun, saya berjanji tidak akan memerangi engkau dan tidak akan membantu orang-orang yang memerangi engkau.”
Maka Nabi ﷺ melepaskannya. Orang tersebut kemudian kembali kepada kaumnya dan berkata,
“Saya datang kepada kalian dari seseorang yang terbaik di antara manusia.”
Ketika merenungkan kisah tersebut, kita dapat melihat bahwa tawakkal mampu memberikan kekuatan dan keyakinan kepada seorang mukmin. Ia meyakini bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan dirinya dari bahaya atau mendatangkan keselamatan selain Allah ﷻ.
Biasanya, seseorang tidak mampu membela diri atau melepaskan diri dari cengkeraman orang lain tanpa adanya belas kasihan dari orang yang berbuat jahat. Dalam kondisi seperti itu, seseorang bisa saja melupakan bahwa kekuasaan Allah ﷻ tetap ada dan Dia Mahakuasa menghindarkan dirinya dari bahaya.
Sungguh nyata perbedaan antara jawaban iman Rasulullah ﷺ dan jawaban orang tersebut. Jawaban “Allah, Allah, Allah” merupakan gambaran keyakinan dan tawakkal seorang yang beriman kepada Allah ﷻ.
Tawakkal, Karakter Orang Beriman
Tawakkal merupakan tema penting, bahkan sangat urgen dalam kehidupan manusia. Tawakkal adalah salah satu ibadah hati yang agung. Selain itu, tawakkal merupakan karakter dan ciri orang-orang yang beriman.
Dalam Surah Al-Anfal ayat 2, Allah ﷻ menyifati orang-orang beriman dengan tawakkal.
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”
(QS. Al-Anfal, ayat 2)
Tawakkal memiliki pengaruh besar bagi kehidupan setiap muslim. Sumber kebahagiaan dan ketenangan salah satunya bersumber dari tawakkal. Terutama ketika seorang muslim dilanda berbagai ujian atau cobaan yang belum kunjung usai, tawakkal dapat membantunya menghadapi dan menyelesaikan persoalan dengan baik tanpa menyakiti diri sendiri ataupun orang lain.
Dengan tawakkal, iman tetap terjaga dan keluarga tetap utuh. Selain itu, hati tidak mudah terombang-ambing oleh khayalan serta lintasan hati dan pikiran yang buruk.
Tawakkal Mengusir Kegelisahan
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata:
“Salah satu cara yang sangat efektif untuk pengobatan penyakit saraf atau kejiwaan, bahkan juga penyakit-penyakit fisik, adalah dengan menghadirkan hati yang kuat, tegar, dan tidak terpengaruh oleh ilusi dan khayalan-khayalan negatif. Sebab, bila seseorang telah menerima khayalan-khayalan, hatinya memberikan reaksi terhadap berbagai pengaruh dari luar, seperti perasaan takut terhadap penyakit dan lain sebagainya, atau perasaan marah dan merasa terganggu sekali karena hal-hal yang menyakitkan, atau memikirkan musibah yang akan menimpa atau kenikmatan yang akan hilang.
Semua itu akan menenggelamkannya dalam kesedihan, penyakit ruhani maupun jasmani, dan menghancurkan jiwanya. Dampak buruk dan bahayanya sudah diketahui oleh banyak orang.
Jika hati bersandar kepada Allah ﷻ, bertawakkal kepada-Nya, tidak menyerah kepada prasangka-prasangka buruk, tidak dikuasai khayalan-khayalan negatif, yakin, serta sangat mengharapkan karunia Allah ﷻ, maka perasaan sedih akan hilang, demikian pula berbagai penyakit fisik dan jiwa. Hati bisa mendapatkan kekuatan, kelapangan, dan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan.
Banyak rumah sakit yang penuh dengan pasien yang sakit karena prasangka-prasangka buruk dan khayalan-khayalan menyesatkan. Banyak orang yang kuat hatinya, tetapi masih terpengaruh oleh hal tersebut, apalagi orang yang memang lemah hatinya. Betapa banyak hal tersebut yang menyebabkan kedunguan dan kegilaan!”
Orang yang sehat dan selamat adalah orang yang diselamatkan Allah ﷻ dan diberi taufik untuk mendapatkan faktor-faktor yang dapat menguatkan hatinya serta mengusir kegelisahannya.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
(QS. Ath-Thalaq, ayat 3)
Orang yang bertawakkal yakin bahwa Allah akan mencukupkan semua yang ia butuhkan dalam urusan agama maupun dunianya.
Oleh karena itu, orang yang bertawakkal kepada Allah ﷻ akan memiliki hati yang kuat. Ia tidak mudah dipengaruhi oleh prasangka-prasangka buruk dan tidak mudah diguncang oleh berbagai peristiwa yang terjadi. Sebab, hal itu termasuk indikasi lemahnya jiwa dan munculnya perasaan takut yang tidak beralasan.
Ia juga mengetahui bahwa Allah ﷻ akan menjamin orang yang bertawakkal kepada-Nya. Ia sangat yakin kepada Allah dan merasa tenang karena percaya kepada janji-Nya.
Kesedihan dan kegelisahannya pun menjadi hilang. Kesulitan menjadi kemudahan, kesedihan menjadi kegembiraan, dan perasaan takut berubah menjadi ketenangan dan keamanan.
Jangan Meragukan Janji Allah
Banyak orang yang tidak yakin kepada janji Allah ﷻ dan tidak menyerahkan persoalannya kepada-Nya. Akibatnya, dalam kehidupan mereka cenderung tidak memiliki tujuan dan arah yang baik. Mereka mudah berputus asa dan tidak mampu mengendalikan jiwanya.
Hal semacam ini sangat membahayakan keimanan. Dampaknya juga dapat berpengaruh terhadap kestabilan hidup, keluarga, bahkan masyarakat.
Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa menumbuhkan tawakkal kepada Allah ﷻ. Ia berusaha, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.
Tawakkal bukan tanda kelemahan. Tawakkal justru merupakan sumber kekuatan jiwa bagi seorang mukmin.


Komentar