Patung telah dikenal manusia sejak berabad-abad lamanya, pada awalnya sebagai sarana untuk mengenang kebesaran dan jasa-jasa yang pernah terukir dalam sejarah, terutama jasa para tokoh terkemuka di tengah-tengah suatu kaum.
Waktu terus berlalu. Generasi berganti dengan generasi berikutnya. Orang-orang yang datang kemudian mulai memuja dan meminta berkah kepada patung-patung tersebut. Lambat laun, patung yang semula hanya dibuat sebagai kenang-kenangan akhirnya menjadi sesuatu yang diagungkan dan bahkan dijadikan sesembahan selain Allah.
Padahal, kita memahami bahwa Islam datang untuk seluruh umat manusia agar mereka beribadah kepada Allah semata dan menjauhi penyembahan kepada selain Allah, termasuk pengagungan terhadap para wali dan orang-orang saleh yang diwujudkan dalam bentuk patung dan arca.
Al-Qur’an menegaskan bahwa para rasul diutus untuk menyeru manusia agar beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk thaghut.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’ Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.”
(QS. An-Nahl, ayat 36)
Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah dan ia ridha dengan penyembahan tersebut.
Patung Orang-Orang Saleh pada Masa Nabi Nuh
Dalil yang paling jelas mengenai patung yang dibuat untuk mengenang orang-orang saleh adalah hadits riwayat al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika menafsirkan firman Allah:
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.’ Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak manusia. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kesesatan.”
(QS. Nuh, ayat 23–24)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Semua itu adalah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung mereka di tempat-tempat duduk mereka dan memberi nama patung-patung itu dengan nama-nama mereka. Kaum itu pun melaksanakannya. Pada waktu itu patung-patung tersebut belum disembah. Setelah mereka meninggal dan ilmu telah dilupakan, barulah patung-patung itu disembah.”
Penuturan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberikan gambaran bahwa salah satu jalan menuju penyembahan kepada selain Allah adalah melalui pengagungan terhadap tokoh-tokoh yang pernah hidup di tengah suatu kaum.
Pada awalnya, patung tersebut mungkin hanya dimaksudkan sebagai kenang-kenangan atau penghormatan. Namun, ketika generasi berganti dan ilmu agama mulai dilupakan, penghormatan tersebut dapat berkembang menjadi pengagungan yang berlebihan hingga akhirnya mengarah kepada penyembahan.
Patung dan Pengagungan
Banyak orang beranggapan bahwa patung atau gambar semacam itu tidak menjadi persoalan selama tidak ada lagi orang yang menyembahnya.
Namun, artikel ini mengingatkan bahwa praktik pengagungan terhadap patung masih dapat dijumpai hingga saat ini. Dalam tradisi sebagian umat beragama, misalnya, terdapat patung atau gambar tokoh agama yang ditempatkan di tempat ibadah dan menjadi bagian dari ritual penghormatan.
Selain itu, terdapat pula patung-patung tokoh yang dibuat dan ditempatkan di ruang publik. Sebagian orang memberikan penghormatan ketika melewati patung tersebut, misalnya dengan membuka penutup kepala atau membungkukkan badan.
Di antara contoh yang disebutkan dalam tulisan ini adalah patung George Washington di Amerika, Napoleon di Prancis, serta Lenin dan Stalin di Rusia.
Negara-negara Arab pun kemudian mengikuti kebiasaan tersebut dengan membuat patung-patung di pinggir jalan. Patung-patung semacam itu hingga kini masih dapat dijumpai di berbagai negeri.
Alangkah baiknya jika dana yang digunakan untuk membuat patung dapat dialihkan untuk membangun masjid, sekolah, rumah sakit, atau memberikan santunan sosial yang lebih bermanfaat.
Sekilas, keberadaan patung mungkin terlihat sebagai sesuatu yang remeh. Namun, jika direnungkan, pengagungan terhadap tokoh melalui patung dapat berkembang menjadi berbagai bentuk penghormatan yang berlebihan.
Kekhawatiran yang menjadi perhatian artikel ini adalah bahwa sesuatu yang pada awalnya hanya dimaksudkan sebagai kenang-kenangan dapat berkembang menjadi bentuk pengagungan dan penyembahan, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh.
Perintah Menghancurkan Patung
Rasulullah ﷺ juga memberikan perhatian terhadap persoalan patung. Beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
“Janganlah engkau membiarkan patung-patung kecuali engkau menghancurkannya, dan jangan pula engkau membiarkan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.”
(HR. Muslim)
Pesan tersebut menunjukkan perhatian Islam terhadap segala sarana yang dapat mengantarkan manusia kepada pengagungan yang berlebihan terhadap makhluk.
Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga kemurnian tauhid dan tidak menjadikan sesuatu yang semestinya hanya dihormati sebagai objek pengagungan yang melampaui batas.
Wallahu a’lam.

Komentar