Akhlak dan kebiasaan seseorang dapat memberikan pengaruh besar kepada orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana tabiat orang tua dapat menurun kepada anak, demikian pula tabiat dan perilaku seseorang dapat memengaruhi orang yang banyak berinteraksi dengannya.
Dalam pergaulan, seseorang sedikit banyak akan menyerap kebiasaan, cara berpikir, dan perilaku orang-orang yang berada di dekatnya. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam memilih teman. Jangan sampai pergaulan yang awalnya kita anggap biasa justru perlahan membawa kita kepada keburukan yang sebelumnya tidak kita kenal.
Mencegah tentu lebih mudah daripada mengobati. Karena itu, sebelum memilih seseorang sebagai teman dekat, hendaknya kita mempertimbangkan dengan baik pengaruh yang mungkin diberikan oleh pergaulan tersebut.
Pilihlah teman dan lingkungan pergaulan yang membantu kita menjadi lebih baik, mendorong kita untuk mencapai cita-cita, serta mendekatkan kita kepada Allah ﷻ. Sebab, teman bukan sekadar seseorang yang menemani kita menghabiskan waktu. Teman juga dapat menjadi sebab berubahnya akhlak dan arah kehidupan kita.
Rasulullah ﷺ telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini:
“Permisalan teman yang sholih seperti pembawa minyak wangi, sedangkan permisalan teman yang buruk seperti pandai besi.”
(HR. Bukhari no. 5214 dan Muslim no. 2628, dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)
Teman yang sholih akan membantu kita mengenali kebaikan, mendorong kita untuk mengerjakannya, dan mengingatkan kita ketika mulai mendekati keburukan. Sebaliknya, pergaulan yang buruk dapat membuat seseorang terbiasa dengan perkara-perkara yang sebelumnya dia anggap salah.
Karena itu, jangan meremehkan pengaruh teman dekat. Seseorang sangat mungkin terpengaruh oleh agama, akhlak, dan kebiasaan orang-orang yang paling sering berinteraksi dengannya.
Betapa banyak orang yang awalnya berada dalam kebaikan, tetapi kemudian berubah karena lingkungan pergaulannya. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang sebelumnya berada dalam keburukan kemudian mendapatkan hidayah Allah ﷻ karena bergaul dengan orang-orang yang baik dan berakhlak mulia.
Namun, hal ini bukan berarti kita harus memutus seluruh hubungan dengan setiap orang yang memiliki kemaksiatan atau kefasikan. Jika kita bergaul dengannya dengan tujuan mengajaknya kepada kebaikan, menasihatinya, dan berharap agar Allah ﷻ memberikan hidayah kepadanya, maka tujuan pergaulan tersebut berbeda.
Tidak sedikit orang yang sebelumnya berada dalam kefasikan kemudian mendapatkan hidayah Allah ﷻ melalui pergaulan dengan orang-orang yang baik. Karena itu, yang perlu kita perhatikan bukan hanya siapa yang kita temani, tetapi juga untuk tujuan apa kita menjalin pergaulan tersebut dan sejauh mana kita mampu menjaga diri dari pengaruh buruknya.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah mengatakan, “Mencegah lebih mudah daripada mengobati.”
Makna ini sejalan dengan prinsip pencegahan: menjauhkan diri dari keburukan beserta sebab-sebabnya lebih mudah daripada berusaha melepaskan diri setelah seseorang terlanjur terjerumus ke dalamnya.
Karena itu, kehati-hatian dalam memilih teman bukan berarti kita menjauhi manusia tanpa alasan. Akan tetapi, kita perlu mengetahui siapa yang dapat membawa kita kepada kebaikan, siapa yang berpotensi membawa pengaruh buruk, dan bagaimana kita menempatkan diri dalam setiap pergaulan.
Tiga Macam Teman
Secara umum, teman dapat dibagi menjadi tiga macam:
- Teman manfaat (kepentingan)
- Teman kenikmatan
- Teman keutamaan
Dua jenis teman yang pertama dibangun di atas sebab tertentu. Ketika sebab tersebut hilang, hubungan pertemanan pun biasanya ikut berakhir.
Teman manfaat akan pergi ketika manfaat yang dia cari sudah tidak lagi diperoleh. Sementara teman kenikmatan akan berakhir ketika kesenangan yang menjadi dasar hubungan tersebut tidak lagi tersedia.
Berbeda dengan keduanya, teman keutamaan berteman karena adanya kecintaan terhadap kebaikan dan kemuliaan. Persahabatan semacam ini tidak dibangun semata-mata untuk memperoleh keuntungan atau kesenangan, tetapi karena keduanya saling mendorong dalam kebaikan dan menjaga nilai-nilai keutamaan.
Teman seperti ini ibarat “mata uang yang langka”—sesuatu yang sangat sulit ditemukan.
Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (wafat 125 H) pernah mengatakan:
“Tidak ada yang tersisa dari kelezatan dunia ini selain seorang teman yang lebih bisa menjaga diri antara saya dan dia.”
Ada pula ungkapan sebagian ulama:
“Menghindar dari berteman tanpa didasari oleh ilmu adalah sebuah kesalahan, sedangkan tanpa sikap zuhud adalah sebuah cela.”
Karena itu, seseorang membutuhkan ilmu dan sikap zuhud sebelum memutuskan untuk menjauh dari pergaulan dengan manusia lainnya.
Pembagian Teman Menurut Syaikh Bakr Abu Zaid
Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah membagi teman menjadi tiga macam.
Pertama, Teman Manfaat
Teman manfaat adalah orang yang berteman dengan kita selama dia masih dapat memperoleh manfaat dari diri kita, baik berupa harta, kedudukan, maupun manfaat lainnya.
Ketika manfaat tersebut sudah tidak lagi dia dapatkan, hubungan itu pun dapat berubah. Dia bisa berbalik menjadi musuh, seolah-olah tidak pernah mengenal kita dan kita pun tidak pernah mengenalnya.
Teman semacam ini sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seseorang meminta sedekah. Ketika diberi, dia merasa senang. Namun, ketika tidak diberi, dia marah.
Contoh lainnya adalah seseorang yang kita anggap sebagai teman dekat dan dia pun menganggap kita demikian. Suatu hari dia ingin meminjam sebuah kitab kepada kita. Namun, kita mengatakan, “Saya masih membutuhkan kitab ini besok.”
Mendengar jawaban tersebut, dia kemudian marah dan memusuhi kita.
Apakah hubungan seperti ini layak disebut persahabatan yang sebenarnya?
Inilah salah satu gambaran teman manfaat: hubungan yang bertahan selama kepentingannya masih terpenuhi.
Kedua, Teman Kenikmatan
Teman kenikmatan adalah orang yang berteman dengan kita hanya untuk bersenang-senang, banyak mengobrol, bersantai, atau menghabiskan waktu bersama.
Hubungan semacam ini biasanya tidak dibangun di atas tujuan yang memberikan manfaat bagi agama maupun kehidupan kita. Jika tidak berhati-hati, waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk perkara yang lebih bermanfaat justru habis dalam percakapan, kesenangan, dan aktivitas yang tidak memiliki tujuan.
Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap pergaulan semacam ini. Bukan berarti setiap percakapan dan hiburan bersama teman adalah sesuatu yang tercela, tetapi jangan sampai persahabatan hanya berputar pada kesenangan dan akhirnya membuat kita kehilangan banyak waktu.
Ketiga, Teman Keutamaan
Teman keutamaan adalah teman yang mengajak kita kepada berbagai kebaikan, mencegah kita dari perbuatan buruk, serta membukakan pintu-pintu kebaikan bagi kita.
Ketika kita melakukan kesalahan, dia tidak membiarkannya begitu saja. Dia mengingatkan dan menasihati kita, tetapi tetap menjaga kehormatan dan harga diri kita.
Inilah teman yang semestinya kita cari dan kita jaga.
Teman seperti ini tidak hanya hadir ketika kita berada dalam kesenangan, tetapi juga membantu kita ketika kita mulai menyimpang. Ia tidak sekadar membenarkan apa yang kita lakukan, tetapi berani mengingatkan ketika kita salah.
Persahabatan yang dibangun di atas kebaikan seperti inilah yang patut kita pertahankan. Sebab, teman yang baik dapat menjadi salah satu sebab kita semakin mengenal kebaikan, mencintainya, dan berusaha istiqamah di atasnya.
Pada akhirnya, memilih teman adalah bagian dari menjaga diri. Kita tidak selalu dapat memilih siapa saja yang akan kita temui dalam kehidupan, tetapi kita dapat memilih siapa yang akan kita jadikan teman dekat dan siapa yang kita izinkan memberikan pengaruh besar terhadap diri kita.
Maka, pilihlah teman yang ketika kita bersamanya, agama kita terjaga, akhlak kita membaik, dan hati kita semakin dekat kepada Allah ﷻ.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Komentar