Home » Blog » Menempatkan Tawakkal dan Ikthiar

Menempatkan Tawakkal dan Ikthiar

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menyatakan:

“Perealisasian tawakkal bukan berarti menafikan usaha dalam mengambil sebab-sebab yang telah Allah tentukan terhadap makhluk-Nya sesuai sunnah-Nya yang berlaku. Maka sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah memerintahkan untuk mengambil sebab-sebab bersamaan perintah-Nya untuk bertawakkal. Usaha dalam mengambil sebab-sebab dengan anggota badan adalah ibadah kepada-Nya, sedangkan tawakkal dengan hati adalah bukti keimanan kepada-Nya.”

Apa yang dikatakan oleh Ibnu Rajab tersebut benar adanya. Sebagian orang salah paham dalam memahami tawakkal. Mereka terjerumus ke dalam dua sikap ekstrem yang saling bertentangan, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Ada sebagian orang yang mendewakan usaha dan ikhtiar, dan ada pula yang meninggalkan usaha dan ikhtiar dengan alasan tawakkal.

Dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin dinyatakan:

“Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syariat. Sedangkan syariat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama?”

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Pengaruh tawakkal akan tampak dalam gerakan hamba dan usahanya untuk menggapai tujuan. Usaha hamba itu bisa berupa mendatangkan manfaat yang belum didapat, seperti mencari penghidupan, ataupun menjaga apa yang sudah ada, seperti menyimpan. Usaha itu juga bisa untuk mengantisipasi bahaya yang datang, seperti menghindari serangan, atau menyingkirkan bahaya yang sudah datang, seperti berobat saat sakit.

Dalam buku al-Ibadah Qalbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’min dinyatakan:

“Permasalahan ini merupakan hal yang sangat penting. Banyak orang yang salah paham dan ada pula yang diberi petunjuk kepada kebenaran. Orang yang mendapatkan petunjuk itulah orang yang bahagia dan beruntung.”

Orang yang meninggalkan sebab biasanya ia menguatkan tekadnya karena telah berniat tidak mencari sebab atau usaha untuk mencapai tujuan dengan alasan tawakkal. Ternyata, ini banyak dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Untuk masa sekarang sangat sedikit.

Di antara orang-orang yang melakukan usaha, ada yang sampai berkeyakinan bahwa mereka tidak bisa melepaskannya. Ia tidak bisa hidup kecuali dengan usahanya dan meyakini bahwa dirinya akan binasa kalau tidak bergantung kepada usahanya itu. Orang seperti ini telah lalai dari tujuan hidupnya sehingga setan menjadi senang.

Patung dan Jalan Menuju Kemusyrikan

Inilah yang banyak terjadi pada zaman kita sekarang. Bahkan, pemikiran ini telah menguasai banyak orang. Cara pandang itu dengan penuh semangat dan antusias mereka serukan setiap pagi dan sore hari, dengan menakut-nakuti tentang masa depan yang kelam sebagaimana yang mereka gambarkan.

Bahagia menurut mereka ditentukan dengan harta yang dapat mencukupi kebutuhan dirinya, anak, dan cucunya, dan begitu seterusnya. Sehingga usaha-usaha menjadi tuhan yang disembah bersama Allah atau dijadikan tuhan selain Allah. Sedikit sekali orang yang bersikap moderat dan memahami keterkaitannya dengan kehidupan seorang muslim secara benar.

Dalam buku MafaatiHurrizqi yang ditulis oleh Dr. Fadhl Ilahi dikatakan:

“Sebagian orang mungkin ada yang berkata, ‘Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rezeki, maka mengapa kita harus lelah, berusaha, dan mencari penghidupan? Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rezeki kita datang dari langit?’”

Perkataan itu sungguh menunjukkan ketidaktahuan orang yang mengucapkannya tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rezeki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rezeki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apa pun, baik perdagangan, pertanian, pabrik, maupun pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan kepada-Nya tempat bergantung.

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

Para ulama telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad. Beliau berkata:

“Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha. Sebaliknya, justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rezeki. Jadi, maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan, dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rezeki) itu di tangan-Nya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.”

Imam Abul Qasim al-Qusyairi berkata:

“Ketahuilah, sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah, maka hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rezeki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdir-Nya, dan jika terdapat kemudahan, maka hal itu karena kemudahan dari-Nya.”

Ibnul Jauzi berkata:

“Mengingkari usaha adalah ucapan orang yang tidak paham dengan makna tawakkal. Mereka menyangka bahwa tawakkal itu dengan meninggalkan usaha dan tidak menggunakan anggota badan untuk bekerja. Kami telah menjelaskan bahwa tawakkal itu adalah amalan hati dan tidak meniadakan amal perbuatan fisik.”

Kesimpulannya, tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha. Setiap muslim wajib bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja, ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras, dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah dan bahwa rezeki itu hanyalah dari-Nya semata.

MACAM-MACAM MANUSIA DALAM BERTAWAKKAL

Pertama, orang yang saleh dan alim.

Mereka bertawakkal kepada Allah dalam beriman, membela agama, mengingkari kalimat Allah, melawan musuh-musuh-Nya, mencintai Allah, dan menjalankan perintah-perintah-Nya.

Kedua, orang yang bertawakkal kepada Allah dalam upaya untuk menjadikan dirinya tetap konsisten.

Ia menjaga kondisinya agar senantiasa bersama Allah dan tanpa ada keterkaitan dengan orang lain.

Ketiga, orang yang bertawakkal dalam perkara-perkara yang biasa dicari orang.

Seperti rezeki, kesehatan, kemenangan menghadapi musuh, membimbing istri, anak, dan sebagainya.

TAWAKKAL YANG UTAMA

Tawakkal yang paling utama adalah tawakkal dalam perkara-perkara yang wajib. Maksudnya, tawakkal dalam hal kewajiban kepada Allah, kewajiban terhadap makhluk, dan terhadap diri sendiri.

Selanjutnya, tawakkal yang paling luas dan manfaatnya adalah tawakkal yang bisa memberikan pengaruh yang tampak berkenaan dengan kemaslahatan agama dan bisa menolak kerusakan agama. Ini adalah tawakkalnya para nabi dalam menegakkan agama Allah dan mencegah kerusakan para perusak di muka bumi.

Tingkat tawakkal di bawah itu adalah tawakkalnya para ulama. Di bawahnya lagi adalah tawakkalnya seseorang yang sesuai dengan niat dan tujuannya.

PENGARUH TAWAKKAL

Bertawakkal kepada Allah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Di antaranya kedamaian, kekuatan, ketenangan, kemuliaan, kerelaan, dan harapan.

Setiap pengaruh mempunyai dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Karena keterbatasan halaman, kami tidak menguraikan semuanya. Di antaranya:

1. Ketenangan dan ketenteraman jiwa serta kekuatan

Baik ketika berhadapan dengan bahaya, musibah, maupun ketika mengalami kesulitan dalam mencari rezeki. Ini bisa dilihat pada kisah Nabi ﷺ ketika pulang dari peperangan dan hadits tentang burung yang telah disebutkan di atas.

Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”

Ungkapan ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke tengah api yang membara. Ungkapan ini juga diucapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika dikatakan kepadanya:

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Sesungguhnya manusia (orang-orang musyrik) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu. Karena itu, waspadalah kepada mereka.”

Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung.’”

2. Masuk surga tanpa hisab

Dalam hadits yang panjang, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Ciri mereka: tidak meminta diruqyah, tidak menganggap sial karena suatu hal, tidak melakukan pengobatan dengan besi panas, dan bertawakkal kepada Allah semata. (HR. Bukhari)

3. Diselamatkan dari godaan dan gangguan setan

Allah berfirman:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.”

(QS. An-Nahl, ayat 99)

Nabi ﷺ bersabda:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”

“Maka dikatakan kepadanya, ‘Engkau telah dicukupi, dijaga, dan dihindarkan dari setan.’”

(HR. Tirmidzi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Nifaq, Dua Sisi Yang Berbeda

02

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 1

03

Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Bagian 2

04

Di Giring ke Pintu yang Manakah Kita Nanti?

05

Jangan Tinggalkan Kebaikan Itu

Terbaru

01

Kemurahan Allah terhadap Hamba-Nya

02

Cukup Kita Berdua yang Tahu

03

Sekilas tentang Mandi Janabah

04

Hukum Tidur dalam Keadaan Junub dan Status Air Mani

05

Lima Hak Seorang Muslim terhadap Muslim Lainnya