Terasa berat memang judul tersebut. Namun, apa lagi istilah yang lebih tepat ketika Alkitab mengemukakan konsep-konsep tentang alam yang kemudian dipertanyakan ketika berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan?
Alkitab memiliki posisi yang sangat prestisius dalam kehidupan umat Kristen. Namun, seiring berkembangnya peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), muncul sejumlah persoalan ketika beberapa teks Alkitab dibandingkan dengan pemahaman ilmiah modern.
Menariknya, sejumlah pemahaman tentang alam yang pernah dipertahankan berdasarkan pembacaan terhadap teks Alkitab kemudian berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Persoalan tersebut antara lain dapat dilihat dalam pembahasan mengenai posisi bumi dalam tata surya dan urutan penciptaan dalam Kitab Kejadian.
Bumi sebagai Pusat Tata Surya
Pada masa lalu, pandangan geosentris, yakni pandangan yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta, memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam tradisi intelektual Eropa. Pandangan tersebut kemudian berhadapan dengan teori heliosentris yang menempatkan matahari sebagai pusat tata surya.
Galileo Galilei, ilmuwan asal Italia, merupakan salah satu tokoh yang mendukung teori heliosentris. Pandangannya berhadapan dengan otoritas Gereja Katolik pada zamannya.
Persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan penafsiran terhadap kisah dalam Kitab Yosua:
“Lalu Yosua berbicara kepada Tuhan pada hari Tuhan menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: ‘Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!’ Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak…”
(Lihat Yosua 10:12–13)
Ayat tersebut pernah digunakan dalam perdebatan mengenai posisi bumi dan matahari. Dalam konteks sejarah Galileo, para penentang heliosentrisme mengutip kisah Yosua sebagai salah satu dasar penafsiran bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi.
Galileo kemudian berhadapan dengan Inkuisisi Romawi pada 1633. Ia dinyatakan bersalah dan dipaksa menarik kembali pandangannya mengenai heliosentrisme. Setelah itu, ia menjalani tahanan rumah hingga akhir hayatnya. Galileo wafat pada 8 Januari 1642.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh paling terkenal dalam sejarah hubungan antara otoritas keagamaan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Berabad-abad kemudian, pada 1992, Vatikan mengakui adanya kesalahan dalam penanganan kasus Galileo.
Matahari Diciptakan Setelah Terang dan Gelap?
Ada pula persoalan lain dalam Kitab Kejadian yang menarik untuk diperhatikan, yaitu mengenai penciptaan terang, siang dan malam, serta benda-benda penerang.
Dalam Kejadian pasal 1, terang disebut muncul pada hari pertama:
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
(Lihat Kejadian 1:1–5)
Sementara itu, benda-benda penerang baru disebutkan pada hari keempat:
“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.”
(Lihat Kejadian 1:16–19)
Dengan demikian, jika teks tersebut dibaca secara kronologis, terdapat terang dan pemisahan siang serta malam sebelum matahari dan bulan disebutkan pada hari keempat.
Di sinilah muncul pertanyaan: bagaimana memahami terang dan siang pada hari pertama jika matahari baru disebutkan pada hari keempat?
Secara ilmiah, siang dan malam yang kita alami di bumi berkaitan dengan rotasi bumi dan penerangan dari matahari. Karena itu, pembacaan literal terhadap urutan tersebut menimbulkan persoalan ketika dibandingkan dengan pemahaman astronomi modern.
Namun, perlu dicatat bahwa persoalan ini tidak sesederhana menyatakan bahwa teks tersebut “salah secara ilmiah”. Dalam tradisi penafsiran Kristen sendiri terdapat berbagai penjelasan mengenai makna terang pada hari pertama dan benda-benda penerang pada hari keempat. Sebagian penafsiran bahkan memahami bahwa terang pertama tidak harus identik dengan cahaya matahari.
Karena itu, kritik terhadap teks tersebut sebaiknya diarahkan pada cara teks dipahami dan implikasinya ketika dibandingkan dengan ilmu pengetahuan modern, bukan sekadar membuat kesimpulan tanpa membahas penafsiran yang ada.
Dalam struktur Kejadian 1 sendiri, terdapat pola bahwa hari pertama memuat terang, sedangkan hari keempat memuat matahari, bulan, dan bintang; demikian pula hari kedua berhubungan dengan langit dan air, sementara hari kelima berhubungan dengan makhluk yang hidup di dalamnya.
Dengan demikian, pembahasan mengenai Bibel dan ilmu pengetahuan membutuhkan ketelitian. Teks keagamaan perlu dibaca sesuai konteksnya, sementara klaim ilmiah juga harus didasarkan pada fakta dan pengetahuan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Wallahu a’lam.

Komentar