Berbicara tentang manusia tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan Allah Yang Maha Pencipta. Dahulu, pada masa Jahiliah, manusia sangat bodoh tentang Allah. Mereka menyembah tuhan-tuhan buatan mereka sendiri. Bahkan, bukan hanya satu, tetapi jumlahnya sangat banyak.
Lalu, apa bedanya dengan masa Jahiliah jika pada zaman yang dianggap modern ini masih ada orang yang meyakini bahwa Tuhan itu merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa pribadi?
Menurut Al-Kitab, semasa hidupnya, Isa atau Yesus pernah didatangi seorang penghulu. Namun, Yesus menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang terbaik.
Pada kesempatan yang lain, datanglah seseorang kepada Yesus, kemudian tersungkur sujud di hadapannya. Di luar dugaan, ternyata Yesus bukanlah sosok Tuhan yang selama ini mereka yakini. Yesus pun menolak untuk disembah sembari menegaskan hakikat dirinya sebagai seorang hamba dan utusan Allah. Lebih lanjut, Yesus memerintahkan agar menyembah Allah.
Berikut ini adalah kutipan Al-Kitab:
“Adalah seorang penghulu bertanya kepada Yesus, apakah wajib hamba perbuat, supaya hamba menjadi waris hidup yang kekal? Maka kata Yesus kepadanya: ‘Apakah sebabnya engkau katakan Aku baik? Seorang pun tiada yang baik, hanya Satu, yaitu Allah.’”
(Lukas 18:18–19)
“Lalu sujudlah aku menyembah kepadaku: ‘Janganlah begitu! Akupun hamba, sama dengan engkau juga, dan dengan segala saudaramu yang memegang kesaksian Yesus. Sembahlah Allah, karena kesaksian Yesus itulah roh nubuat.’”
(Wahyu 19:10)
Apabila Tuhan lebih dari satu, rusaklah dunia. Ungkapan ini ternyata bukan saja terdapat dalam Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, tetapi juga memiliki kesamaan dengan ajaran yang terdapat dalam Al-Kitab yang menjadi pegangan kaum Nasrani, sebagaimana disebutkan dalam Matius 6:24:
“Tiada dapat seseorang juapun bertuankan dua orang; karena tak dapat tiada seorang dibencinya dan seorang dikasihinya kelak, atau ia berpegang pada seorang dan meringankan yang lain. Tiadalah dapat kamu ber-Tuhan-kan Allah bersama-sama Mammon.”
(Matius 6:24; lihat juga Lukas 16:13)
Hal tersebut juga ditegaskan oleh Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang melengkapi dan menyempurnakan risalah sebelumnya.
Allah ﷻ berfirman:
“Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”
(QS. Al-Anbiya, ayat 22)
Allah ﷻ juga berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah”?’ Isa menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.’”
(QS. Al-Ma’idah, ayat 116)
Di sisi lain, Yesus juga dianggap sebagai penjelmaan dari sosok anak Tuhan yang turun ke dunia. Namun, seorang tokoh mereka sendiri, Prof. Sharl Jenniber, seorang kristolog penganut Kristen, menyanggah doktrin yang dianutnya sendiri:
“Yesus tak pernah mengungkapkan dirinya sebagai Mesias dan tidak mengatakan dirinya adalah anak Tuhan. Sebutan anak Tuhan adalah pengaruh dari kebudayaan Yunani, yang dibawa oleh Paulus dan pengarang Injil Yohanes.”
Lebih lanjut, Prof. Sharl Jenniber mengatakan:
“Ajaran Trinitas atau oknum yang menyatu dalam Jauharul Fardi (substansi tunggal) bukanlah sesuatu yang baru. Dia sudah ada dalam sejarah manusia berupa dongeng-dongeng mitologi tumpang tindih dan tidak jelas. Sayangnya, orang-orang yang mempercayai ajaran itu secara umum belum pernah diberi kesempatan untuk memahaminya dengan pikiran mereka sendiri, tanpa dipaksa (dogma).”
Argumen yang telah diajukan di atas sampailah pada satu kesimpulan bahwa Juru Selamat hanyalah Allah saja, tidak berputra, dan tidak ada Tuhan yang lain. Keputusan Allah adalah mutlak dan tidak perlu dirundingkan dengan Tuhan anak atau yang lainnya layaknya sebuah keluarga. Mahasuci Allah dari segala sifat-sifat tersebut.
Bibel juga menyebutkan dengan terang bahwa Juru Selamat hanyalah Allah:
“Bahwa Aku ini, bahkan, Akulah Tuhan, lain daripada-Ku tiadalah Juru Selamat. Bahwa Aku ini yang sudah berfirman, Aku ini yang sudah menolong. Aku ini yang sudah mengajar, tiada pernah yang lain berbuat barang sesuatu di antara kamu: maka kamu juga saksiku, demikianlah firman Tuhan, bahwa Aku ini Allah!”
(Yesaya 43:11–12)
Kitab suci Al-Qur’an memberikan informasi yang sama:
Allah ﷻ berfirman:
“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah mereka dengan Al-Qur’an agar setiap orang tidak terjerumus ke dalam neraka karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafaat selain Allah. Dan jika dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima darinya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.”
(QS. Al-An’am, ayat 70)


Komentar