Segala puji bagi Allah ﷻ, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah ﷻ dari keburukan diri kita dan dari kejahatan amal perbuatan kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah ﷻ, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Dalam mentadaburi Al-Qur’an, Allah ﷻ mensifati hamba-hamba-Nya yang beriman adalah orang yang beruntung, yang berhasil, yang meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tujuan hidup mereka adalah meraih keridhaan Allah ﷻ. Allah ﷻ menyebutkan sifat-sifat mereka, dan Dia memulai dengan mensifati mereka, seakan-akan Dia berkata kepada hamba-hamba-Nya: “Barangsiapa menginginkan keberuntungan dan ingin mewarisi surga, mereka itulah orang-orang yang mewarisi Firdaus, mereka kekal di dalamnya.”
Sifat Orang Beriman: mereka merealisasikan iman, dan setelah merealisasikan iman, mereka membuktikan iman itu dengan amal. Karena amal termasuk dalam makna iman. Di antara sifat mereka yang disebutkan adalah:
“Orang-orang yang mereka khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun, ayat 2)
Panggilan Termulia dalam Kehidupan
Pemberhentian pertama: panggilan termulia yang kita dengar dalam hidup, yang mengajak kita untuk berdiri di hadapan Yang Maha Agung jalla wa ‘ala. Panggilan teragung dalam hidup—bukan kita dipanggil untuk bertemu salah satu pembesar dari para pembesar, walaupun ia akan memberi kita pakaian, memberi kita harta yang tak terbatas.
Panggilan teragung untuk berjumpa yang kita dengar sedangkan kita di atas bumi, adalah ketika kita diseru dengan Hayya ‘ala al-falah (Mari menuju kemenangan). Sebelumnya, muazin berkata kepada kita sebagai pengingat: Allahu Akbar—Allah Maha Besar, Allah Dialah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi jalla wa ‘ala.
Dia memanggil kita ke rumah-Nya, memanggil kita untuk berjumpa dengan-Nya, memanggil kita sedangkan Dia Maha Kaya dari kita, memanggil kita agar kita berdiri di hadapan-Nya dalam keadaan berdiri, qanitin (khusyuk taat). Allah ﷻ berfirman:
“Dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah, ayat 238)
Panggilan teragung itu adalah ketika kita melangkah menuju perjumpaan dengan Allah ﷻ dengan langkah yang khusyuk dan hati yang tunduk serta kembali kepada-Nya.
Apakah Kita Mendengar Perjumpaan dengan Allah ﷻ?
Ya, demi Allah, beberapa menit yang lalu kita berada di hadapan Sang Raja jalla wa ‘ala bermunajat kepada-Nya. Allah ﷻ menyingkap hijab antara kita dan Dia seketika kita mengangkat telapak tangan terbuka ke arah kiblat, dan menyamakannya dengan bahu, atau menyamakan ujung-ujung telinga.
Pada saat kita mengucapkan Allahu Akbar, tersingkaplah hijab antara kita dan Allah ﷻ berhadapan dengan wajah kita. Apakah ada yang lebih agung dari perjumpaan ini? Tidak, Demi Allah.
Oleh karena itu, orang yang beriman adalah orang yang diliputi kebahagiaan, yaitu mereka yang setiap kali dunia memperburuk mereka dengan kesedihan-kesedihannya, dan menyempitkan mereka dengan kepahitannya, dan menyedihkan mereka penghuninya, mereka segera berlindung dengan shalat.
Adalah kebiasaan Rasulullah ﷺ, jika ia dilanda kesedihan, ia memanggil Bilal agar segera menyerukan shalat—shalat adalah penghubung antara kita dan Allah.
“Wahai Bilal, bangunlah dan istirahatkanlah kami dengan shalat.”
(HR. Abu Dawud)
Rahasia Mi’raj dan Hakikat Shalat
Oleh karena itu, jika kita berbicara tentang ruh shalat, yaitu khusyuk, kita berbicara tentang ibadah yang Allah ﷻ kehendaki agar hamba-hamba-Nya mengangkat ruh-ruh mereka sedangkan mereka di atas hamparan bumi, ketika mereka berdiri di atas bumi.
Oleh karena itu, shalat tidaklah Allah ﷻ fardhukan di atas bumi—semua syariat Islam: haji, puasa, sedekah, nafilah, semua ketaatan difardhukan di atas muka bumi kecuali shalat. Allah ﷻ mengangkat Muhammad ﷺ ke suatu tempat yang tidak dicapai oleh para nabi dan tidak pula malaikat-malaikat yang didekatkan, hingga ia mendengar goresan pena dan mendengar firman Yang Maha Rahman, dan dibebani perintah shalat lima puluh kali, lalu diringankan menjadi lima, namun pahalanya tetap.
Mengapa di langit? Agar ketika kita sujud di bumi lima puluh kali, ruh ini naik kepada Allah ﷻ sebagaimana Muhammad ﷺ naik, hingga kita merasakan kelezatan munajat dan kelezatan berdiri di hadapan Allah ﷻ.
Posisi teragung dalam hidup adalah ketika seorang hamba berdiri di hadapan Tuhannya. Maka shalat yang khusyuk adalah cermin kehidupan. Saat dada sesak, rezeki sempit, penyakit datang, kesedihan menumpuk, dan hati hampir pecah, kita sering menyalahkan keadaan—padahal bisa jadi yang lemah adalah hubungan kita dengan shalat.
Bukankah Allah ﷻ berfirman:
“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah, ayat 45)
Shalat Bukan Sekadar Gerakan
Shalat bukanlah gerakan olahraga yang kosong dari ruh. Shalat bukan sekadar rukuk dan sujud. Karena itu, termasuk yang paling buruk adalah ketika kita mendengar sebagian orang menjelaskan shalat hanya dari sisi manfaat fisiknya. Mereka berkata: “Rukuk itu membuat otot dan peredaran darah bergerak, darah mengalir ketika sujud ke otak lalu memancar ke pembuluh darah, dan seterusnya.”
Pendapat semacam itu tidak salah seluruhnya, karena gerakan shalat memang memiliki dampak bagi tubuh. Akan tetapi, ketika shalat direduksi menjadi sekadar olahraga, lalu rasa khusyuk dari melakukan sholat itu sendiri hilang, di situlah letak kesalahannya. Shalat bukanlah sekadar rangkaian gerakan yang menyehatkan badan. Shalat adalah pertemuan seorang hamba dengan Allah ﷻ, koneksi seorang hamba dengan Rabb-nya sedangkan ia masih berada di atas bumi. Tidak mungkin ia merasa cukup tanpa Allah ﷻ.
Oleh karena itu, Allah ﷻ menjadikan di muka bumi ini rumah-rumah untuk-Nya, yaitu masjid-masjid, sebagai tempat para hamba beribadah dan berjumpa dengan-Nya. Dan beruntunglah ketika muazin berkata Allahu Akbar, lantas hati kita ikut bergembira, kita segerakan kaki ini untuk melangkah menuju rumah Allah ﷻ setelah badan kita basuh dengan air wudhu yang sejuk, lalu kita berjumpa dengan Allah dan berhadapan dengan-Nya.
Keteladanan Para Salaf dalam Menghadap Allah ﷻ
Orang-orang saleh di antara mereka, ada yang ketika berwudhu—di antaranya Zainal Abidin rahimahullah—wajahnya memucat. Dan diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma:
“Mengapa wajahmu memucat? Ia berkata: ‘Celaka engkau, sesungguhnya aku adalah musafir menuju perjumpaan dengan Tuhanku.’”
Mereka berdiri di hadapan Allah ﷻ dan telah melupakan dunia. Dikatakan bahwa salah satu salaf—tiang masjidnya runtuh, yaitu tiang masjid, runtuh dan roboh karena banjir yang datang melanda kotanya, dan ia berada di sudut masjid yang jauh, dan ia tidak mengetahui runtuhnya masjid hingga keluarganya datang untuk menyelamatkannya, maka mereka mendapatinya berdiri shalat, shalat dengan hatinya yang naik ke langit dengan ruhnya, dan di hadapan Tuhannya dalam keadaan qanit lagi khusyuk.
Oleh karena itu, shalat seorang hamba bisa sangat berbeda keadaannya. Mungkin kita semua, alhamdulillah, telah menunaikan shalat. Akan tetapi, ada orang yang shalat di samping orang lain dalam shalat Isya, dan antara shalat orang ini dan shalat orang itu seperti jarak antara langit dan bumi.
Di antara orang-orang yang shalat, ada yang shalat lalu dibukakan pintu-pintu langit untuk shalatnya karena ruh dan hatinya, karena ia merendah, ruku’, dan sujud dengan hatinya sebelum badannya. Oleh karena itu, langit menyambut shalatnya sebagian karena materi dan ruhnya, yaitu khusyuk, yang memperindahnya.
Dan sebagian kita, mungkin shalatnya seperti kain usang, lalu dilemparkan ke wajahnya. Kemudian: “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku”—ketika ia berdusta, sedangkan ia di hadapan Allah ﷻ. Ia berkata Allahu Akbar, sedangkan perkara istrinya dianggap lebih besar, urusan anak-anaknya lebih besar, dan tuntutan-tuntutan hidup lebih besar.
Tingkatan Shalat Menurut Hadits
Rasulullah ﷺ berkata: “Seorang laki-laki masuk dalam shalatnya dan tidak dituliskan untuknya kecuali seperduanya, kecuali jika ia berkata sepersepuluhnya.” Kemudian ia berkata: “Seorang laki-laki masuk dalam shalatnya dan keluar, dan tidak dituliskan untuknya sesuatu pun darinya.”
“Sesungguhnya seseorang berpaling (dari shalatnya) dan tidak dituliskan untuknya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau seperdua dari shalatnya.”
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Yaitu bahwa ia telah menunaikan sholat, maka gugurlah kewajiban syariat darinya, akan tetapi pada hakikatnya sholatnya tidak diterima, bahkan tidak diterima sama sekali.
Oleh karena itu, orang yang khusyuk dalam shalat adalah orang yang munib (jiwa ingin kembali), dan dialah orang yang mukmin, adalah orang yang menjadikan shalatnya sebagai qurratu ‘ain (penyejuk mata) dalam hidupnya. Allah ﷻ berfirman tentang shalat akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut, ayat 45)
Bukankah di antara orang-orang yang shalat ada yang memakan riba?
Bukankah di antara orang-orang yang shalat ada yang memandang wanita?
Bukankah di antara orang-orang yang shalat ada yang menikmati lantunan musik dan nyanyian?
Bukankah di antara orang-orang yang shalat ada yang berbuat fasiq?
Bukankah di antara orang-orang yang shalat ada yang lisannya tetap melontarkan cacian dan kekejian?
Shalat macam apa ini? Mengapa shalat yang kita lakukan tidak mampu mencegah dari perbuatan maksiat, padahal Allah ﷻ telah menetapkan dalam kitab-Nya bahwa sholat itu mencegah kemungkaran? Mengapa tidak mampu mencegahnya? Karena ternyata sholat yang kita lakukan bukanlah sholat yang dilakukan dengan kesungguhan dan penuh rasa khusyuk.
Shalat lah layaknya Orang yang Berpamitan
Shalat yang mencegah maksiat dan perbuatan mungkar adalah shalat yang dikerjakan oleh seorang hamba sedangkan ia meyakini bahwa ia tidak akan shalat lagi setelahnya—sebagaimana disebutkan dalam atsar: “Shalatlah seperti shalat orang yang berpamitan.”
Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari—radhiyallahu ‘anhu—bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Berilah aku nasihat dan ringkaslah.” Maka beliau ﷺ bersabda:
“Apabila engkau berdiri untuk melaksanakan shalatmu, maka kerjakanlah shalat seperti shalatnya orang yang akan berpisah. Janganlah engkau mengucapkan suatu perkataan yang membuatmu harus meminta maaf karenanya esok hari. Dan hilangkanlah harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia..”
(HR. Ibnu Majah, no. 4171; Ahmad; dan lain-lain. Lihat Jami’ul Masanid was Sunan, 9/76, Maktabah Syamilah)
Shalatlah, dan sesungguhnya Allah shalat melihat kalian. Inilah derajat ihsan: beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya. Kita memang tidak mampu melihat-Nya, tetapi kita yakin bahwa Dia senantiasa melihat kita.
“Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim)
Oleh karena itu, jika dikatakan kepada seseorang: “Apakah engkau ridha jika shalatmu ini menjadi shalat terakhirmu dalam hidup?” Siapa di antara kita, yang ingin mengulangi shalatnya? Tentu jawabannya adalah kita semua ingin mengulanginya. Bukankah akan tiba saatnya kita mengerjakan shalat yang terakhir, dan setelah itu tidak ada lagi kesempatan untuk shalat?
Semua orang yang dipindahkan ke alam kubur telah melakukan satu shalat dan tidak shalat lagi setelahnya. Apakah mereka mengetahui bahwa shalat itu adalah yang terakhir? Tidak seorang pun dari mereka. Oleh karena itu, jika mereka mengetahui, niscaya mereka sujud satu sujud dan tidak mengangkat kepala mereka lagi setelahnya.
Maka hendaknya kita menjadikan setiap shalat sebagai shalat yang terakhir. Kita kerjakan dengan sepenuh hati, kita hadirkan ruh dan jiwa di dalamnya, kita sucikan dari kelalaian dan ketergesaan. Sebab kita tidak pernah tahu, boleh jadi shalat yang sedang kita kerjakan ini adalah shalat terakhir dalam hidup kita, dan tidak ada lagi kesempatan setelahnya untuk bersujud, memuji, dan bermunajat kepada Allah ﷻ.


Komentar